Bagaimana Caranya Menjadi Perempuan?

Menjadi perempuan, kamu harus bisa bersih-bersih rumah, bisa masak, bisa urus anak. Menjadi perempuan, kamu harus bisa dandan, make up, harus bisa menjaga kecantikan diri. Menjadi perempuan kamu harus jago melayani suami. Menjadi perempuan kamu harus lemah-lembut. Menjadi perempuan—

Sepertinya cukup saya menuliskan daftar menjadi perempuan sampai disini saja. Saya menuliskan daftar ini dari apa yang biasanya saya dengar sehari-hari. Entah dari keluarga, teman, sampai media. Entah dari perempuan atau bahkan, laki-laki. Sepertinya banyak yang menaruh perhatian pada perihal menjadi perempuan. Namun, saya ingin melihat lebih kritis, menyadari bahwa  perkataan tentang menjadi perempuan pada kenyataannya tak selalu berdampak positif bagi para perempuan. Tak sedikit perempuan frustasi karena nasehat-nasehat (asumtif yang menjadi sugesti sekaligus tuntutan) yang dilontarkan pada mereka.

Misalkan, untuk menjadi perempuan, kecantikan adalah salah satu hal utama, yang direpresentasikan melalui bentuk tubuh kurus-putih-langsing dengan rambut lurus-panjang. Dampaknya fatal bagi para perempuan. Mereka, yang mencoba mengikuti “nasehat” ini, akan berusaha menjadi kurus dengan diet mati-matian, atau dengan smoothing rambut yang alaminya keriting, atau dengan membeli obat pemutih kulit yang banyak dipromosikan di online shop Instagram. Beruntungnya di zaman ini, telah lebih banyak perempuan yang sadar dan berkampanye untuk self-love dan meredefinisi standar kecantikan.

Saya kira terlalu banyak pihak yang mendikte perempuan tentang bagaimana caranya menjadi perempuan. Ya, termasuk media (yang ditunggangi kapitalis dan ingin membentuk perempuan menjadi sangat konsumtif). Tak terkecuali para laki-laki, dalam doktrin patriarkhi yang harus menjaga posisi perempuan tetap di bawah laki-laki. Para perempuan harus bisa dipimpin, harus “manut” harus patuh pada suami dalam segala hal.

Saya pikir apa yang kita kenal sebagai cara menjadi perempuan merupakan hal yang sangat relatif, bisa berbeda-beda pandangan antar budaya, agama, atau bahkan keluarga yang berbeda. Misalkan, agama Islam mengharuskan perempuan untuk berhijab – sementara di agama lain tidak. Atau, agama Kristen yang menjadikan Amsal 31 di kitab sucinya sebagai acuan tentang menjadi perempuan yang tentu tidak dipelajari oleh umat agama lain. Dalam hal budaya, berbeda lagi. Untuk menjadi perempuan di suku Batak, ada tuntutan untuk melahirkan anak laki-laki yang perannya dianggap signifikan dalam melanjutkan garis keturunan keluarga. Untuk menjadi perempuan di suku Jawa, menjaga sikap merupakan keharusan : paham unggah-unggah (sopan-santun), seperti tidak boleh tertawa keras dengan mulut lebar. Itu baru contoh dari dua agama dan dua budaya, sementara agama dan budaya di dunia terhitung banyak. Masing-masing tentu memiliki pijakan nilainya sendiri tentang bagaimana caranya menjadi perempuan.

Belum lagi nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, yang berbeda-beda. Sangat relatif. Misalnya, ada teman saya yang bercerita, di dalam keluarganya, menjadi perempuan berarti harus berkorban dan memberikan kesempatan kepada saudara laki-laki sedarah untuk mengecap pendidikan yang lebih baik dibanding mereka, karena para laki-laki nantinya akan mencari nafkah keluarga dan para perempuan hanya akan ikut suaminya saja. Sebaliknya, di keluarga saya, ayah saya berpesan, menjadi perempuan tak ada bedanya dengan menjadi laki-laki dalam hal pendidikan. Baik saya yang perempuan, maupun adik saya yang laki-laki, sama-sama dipesankan untuk mencari ilmu dan gelar melebihi dari orang tua kami.

Saya pribadi juga belakangan ini mempertanyakan bagaimana caranya menjadi perempuan di tengah arus media yang deras sekali yang mengumbar sana-sini mengenai berbagai produk kecantikan. Belakangan, tutorial-tutorial make up dan kecantikan makin banjir di YouTube. Apa iya menjadi perempuan harus selalu menjaga make up di wajah dan tatanan rambut rapi di kepala? Di segala kondisi? Apa iya menjadi perempuan berarti harus mengenal berbagai jenis make up, pakai krim malam dan krim pagi untuk peremajaan kulit wajah, harus memperhatikan gaya pakaian tetap feminine dan kekinian – apa menjadi perempuan berarti tidak bisa menjaga hidup tetap dijalani dengan sederhana saja? Apa iya menjadi perempuan memang seribet itu untuk masalah kecantikan dan kemolekan diri, mengurus dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan menghabiskan uang yang tak sedikit jumlahnya dan waktu yang tak sebentar hitungannya – untuk tujuan apa? Saya tidak anti make-up, tentu saja. Namun, saya kira, perempuan harus bisa menikmati setiap make up yang dikenakan atas nama self-love.

Nilai-nilai tentang menjadi perempuan, menurut saya, memang sifatnya mengkategorisasi. Akan ada mereka yang terinklusi dan tereksklusi dari kelompok “perempuan yang sudah menjadi perempuan”. Ya, berarti akan ada kelompok satunya, kelompok “perempuan yang belum menjadi perempuan” atau bahkan “perempuan yang belum sukses menjadi perempuan” – meski tidak secara gamblang diungkapkan.

Bagaimanapun, memang nilai dan norma itu penting untuk masyarakat. Tanpa nilai dan norma, masyarakat bisa chaos. Termasuk dalam hal menjadi perempuan. Karena itu, saya pikir, nilai tentang bagaimana menjadi perempuan memang perlu diatur. Saya lebih suka memisahkannya menjadi dua, antara nilai yang terkait peran biologis dan nilai yang sifatnya sosial. Nilai yang terkait peran biologis, seperti menjadi perempuan pasti akan mengalami menstruasi sehingga para perempuan harus tahu bagaimana menangani siklus menstruasi. Sifat nilai yang terkait peran biologis perempuan ini harus objektif (berdasar ilmu medis, misalkan). Peran sosial, sebaliknya, sifatnya lebih cair – lebih relatif. Sangat tergantung pada masyarakat tempat perempuan berada.

Untuk peran sosial sendiri, kita butuh menganalisis ulang setiap nilai. Apakah memang nilai tentang menjadi perempuan itu membangun atau justru berpotensi menghancurkan perempuan? Apakah nilai itu menetapkan perempuan dalam posisi setara dengan laki-laki atau justru malah di bawah (atau di atas) laki-laki? Saya kira ini harus diselidiki lagi karena saya percaya kesetaraan adalah kunci. Kemudian, kita perlu juga memikirkan konsekuensi. Apakah para perempuan yang tidak bisa mengikuti nilai akan “dihukum” dikucilkan tanpa melihat penyebab dan konteks situasi – ataukah mereka akan ditolong untuk kembali berusaha mengikuti nilai dengan cara yang manusiawi? Atau mungkin, perlu ada alternatif nilai lain? Masyarakat jelas perlu menetapkan dan menganut nilai-nilai yang tidak menyudutkan dan tidak merugikan perempuan.

Saya pribadi percaya, bahwa perempuan harus menetapkan nilai-nilainya sendiri untuk menjadi kuat bertahan dalam arus konformitas yang membingungkan sekarang ini. Perempuan harus sadar, peka, dan tajam dalam melihat setiap nilai yang ditawarkan dan ditanamkan kepada dirinya dari lingkungan eksternal (keluarga, budaya, peers, media, bahkan mungkin agama). Setiap nilai butuh dipertanyakan dan dipahami, tidak hanya diterima dengan menutup mata. Perempuan harus berani untuk menetapkan nilai, mengadopsi nilai, bahkan menolak nilai, untuk dirinya sendiri, tentang bagaimana menjadi perempuan.

Menjadi perempuan dalam hidup bermasyarakat memang complicated. Sama complicated-nya sebenarnya dengan menjadi laki-laki, terutama dalam peran sosial yang ditetapkan sistem patriarkhi (ini katanya menjadi salah satu penyebab tingginya angka bunuh diri laki-laki). Namun, kiranya kita tetap berani. Berani untuk menjadi perempuan, seperti defenisi yang kita tetapkan dan kita yakini.*

 

p.s. :

Tulisan ini telah dipublikasikan di halaman Magdalene.Co dengan proses editing yang diperlukan. Dapat dikunjungi di alamat http://magdalene.co/news-1336-bagaimana-caranya-menjadi-perempuan.html

Not Taken For Granted : Menjadi Ibu Tidaklah Mudah

Sebelum tulisan ini saya tuliskan, saya ingin menjelaskan satu titik pijak penting dari tulisan saya. Tulisan ini tidaklah dimaksudkan untuk semacam “menghasut” perempuan untuk tidak menjadi ibu. Tulisan ini ditulis justru agar setiap perempuan lebih menyerap pemaknaan dalam peran menjadi seorang ibu – dan terlebih lagi, untuk para laki-laki, agar dapat lebih menghargai perempuan yang memainkan peran sebagai seorang ibu. Terkhusus terhadap para perempuan yang memiliki relasi personal dalam hidupnya, baik yang melahirkan dan membesarkannya, maupun yang melahirkan dan membesarkan anaknya kemudian.

 

Berawal Dari Kegelisahan

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Kegelisahan saya muncul ketika saya berbincang dengan seorang teman dekat saya mengenai realita perselingkuhan. Kegelisahan saya juga muncul ketika saya membaca tulisan-tulisan atau menyimak film, fiksi dan non-fiksi, yang sedikit-banyak menggambarkan realita perselingkuhan di dalam rumah tangga. Bagaimana publik, secara sadar dan tidak sadar, memiliki tendensi untuk menganggap “wajar” perselingkuhan yang terjadi dari para laki-laki – para suami, para bapak. Bahkan, para perempuan lainnya, para istri mereka, bisa jadi ikut berpikir demikian : “Tak apalah mereka selingkuh, asal tidak di depan mataku. Asal aku tak tahu!” (Mohon dipahami bahwa dalam hal ini saya tidak ingin mengeneralisasi bahwa semua istri berpikir demikian atau semua suami dan para lelaki pasti punya tendensi selingkuh atau menganggap perselingkuhan adalah wajar). Saya berbicara mengenai sebagian, sebagian yang sepertinya juga cukup banyak, sehingga perlu dibahas dalam tulisan ini.

Saya gelisah. Gelisah ketika dasar dari semua tendensi pandangan ini adalah keyakinan bahwa lelaki katanya lebih membutuhkan seksualitas daripada perempuan, mereka katanya cenderung berpikir sensual dan karena itu butuh melampiaskannya. Jadi, bagi mereka yang berkeyakinan demikian, selingkuh adalah hal yang wajar. Ketika istri di rumah tidak lagi berbadan seksi dan merangsang hasrat seksualitas – yang berujung pada kekurangnikmatan orgasme yang dialami sementara kebutuhan seksualitas para lelaki diyakini tinggi – “jajan” sesekali di luar tidak apalah. Asal jajanan tidak dibawa pulang.

 

Ibu & Tubuh Perempuan Yang Berubah

Kita memang harus mengakui bahwa tubuh perempuan bisa berubah. Wajar jika tubuh istri saat ini, setelah sepuluh atau dua puluh tahun pernikahan, tidak lagi seseksi ketika baru kenal dan baru menikah dulu. Namun, banyak faktor yang menyebabkan tubuh perempuan berubah. Dua penyebab yang sering dialami banyak perempuan yang saya dengar adalah tugas (biologis) para istri untuk melahirkan dan efek jenis KB tertentu. Tubuh perempuan, meski tak semua, dianggap menjadi melar, menjadi gemuk, menjadi tidak menarik. Lalu, jika sudah tidak menarik, suami boleh mencari pengganti yang lebih menarik di luar sana? Tidakkah para lelaki pernah berpikir bahwa perempuan tak ada bedanya untuk kebutuhan seksualitas, jika dibandingkan dengan mereka? Bahwa mereka juga memiliki hasrat yang bisa jadi tidak bisa dipuaskan oleh para suami – yang tubuhnya juga pasti berubah, tidak lagi seperti saat baru menikah dulu? Jika ketidakmenarikan tubuh pasangan bisa dijadikan dasar alasan untuk perselingkuhan – dan para perempuan semuanya pun mengikuti keyakinan ini – bisa dibayangkan berapa rumah tangga akan carut-marut karena masalah perselingkuhan.

Jika kemenarikan tubuh pasangan dianggap seesensial itu dan kebutuhan seksualitas menjadi sesuatu yang harus selalu dituruti dan dipuaskan dengan maksimal (termasuk lewat jajan dan perselingkuhan), saya jadi mempertanyakan apa gunanaya pernikahan? Dan rumah tangga? Bagaimana cara kita memandang komitmen (dan batas-batas yang tercipta akibat komitmen) saat ini?

Kembali pada perubahan tubuh perempuan – yang adalah wajar dan pasti terjadi seiring usia, sebagaimana juga dialami oleh laki-laki. Sangat tidak adil jika laki-laki ingin jajan atau ingin selingkuh karena melihat tubuh istrinya tak lagi seseksi dulu, apalagi karena dampak melahirkan dan jenis KB yang dikonsumsi. Dalam hal ini, memang perempuan dapat melakukan upaya-upaya tertentu untuk “tetap menjaga bentuk tubuhnya” setelah melahirkan. Senam kegel, salah satunya. Tapi saya kira, kita butuh mempertanyakan lagi, apakah suami hanya ingin menerima istri bertubuh seksi dan tidak lagi bisa menerima istrinya ketika tubuh itu berubah akibat melahirkan (atau KB untuk mencegah kehamilan)?

 

Proses Reproduksi Bagian Perempuan: Bukan Tugas Mudah

Melahirkan itu bukan tugas yang gampang bagi seorang perempuan. Saya kira, tak semua perempuan dan tak semua laki-laki benar-benar menghayati tugas penting ini. Saya kira, tak sedikit para laki-laki yang menganggap tugas biologis ini taken for granted. Semacam, ya itu sudah kodratnya perempuan. Ya, perempuan memang harus melahirkan. Ya, itu sudah tugas perempuan. Beberapa dari kita mungkin tidak pernah benar-benar merenungi betapa beratnya tugas melahirkan. Bahkan tidak hanya melahirkan, tetapi juga keseluruhan proses reproduksi biologis bagian perempuan itu : mengandung, menyusui, termasuk menstruasi.

Menjadi ibu tidaklah mudah. Menjadi perempuan yang kemudian menjadi seorang ibu yang memerankan tugas biologis ini tidaklah mudah. Mengandung selama sembilan bulan (atau kurang) tidaklah mudah. Mengalami mual dan muntah dan tidak selera makan bukanlah hal mudah. Harus menjaga apa yang dilakukan, termasuk makanan dan minuman, selama mengandung agar tidak berdampak pada kandungan bukanlah hal yang mudah. Harus mengalami kontraksi menjelang kelahiran bayi bukanlah hal mudah. Mengalami vagina yang sobek atau bawah perut yang harus disilet pisau operasi ketika melahirkan tidaklah mudah. Kadang sampai bertaruh nyawa, tentu tidak mudah. Menjalani masa pemulihan pasca melahirkan kemudian tidak mudah. Menyusui bayi bukan hal mudah, khususnya jika sang ibu mengalami kekurangan ASI atau malah kelebihan ASI. Mengurus anak, entah dilakukan sendiri oleh para ibu rumah tangga maupun dilakukan para ibu yang bekerja di ranah publik dengan bantuan nanny-dan-babysitter, tidaklah mudah. Belum lagi, menstruasi yang merupakan proses peluruhan dinding rahim yang terjadi setiap bulannya, dengan intensitas sakitnya masing-masing di setiap perempuan. Semuanya butuh usaha, butuh kekuatan untuk menjalaninya. Tak heran, tak sedikit para ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression lainnya, karena proses ini tidak bisa dibilang gampang.

Saya mengatakan tidak mudah, bukan berarti tidak bisa dinikmati atau selalu membebani. Saya percaya, bahwa ada anugerah tersendiri, yang hanya dapat dialami perempuan dalam tugas biologis ini. Ada hal-hal yang hanya dapat diresap oleh perempuan karena pengalaman menjadi seorang ibu. Karena itu, para perempuan butuh lebih memikirkan peran biologis ini. Para perempuan perlu menyadari bahwa ini tugas penting, benar-benar tidak sepele, dan merupakan salah satu tugas istimewa yang hanya para perempuanlah yang bisa melakukannya. Tak ada laki-laki yang bisa melahirkan, hanya perempuan. Ini fakta penting.

Dalam tugas reproduksi biologis ini, para perempuan memberikan dirinya, tubuhnya, untuk ikut menciptakan kehidupan yang baru. Ia memberikan rahimnya untuk mengandung, ia memberikan payudaranya untuk menyusui, ia memberikan dirinya untuk mengurus dan membesarkan seorang manusia baru. Tugas menjadi ibu ini membutuhkan pengorbanan, ketulusan, kesungguhan para perempuan. Ia tidak lagi boleh egois, karena sekarang ia memiliki tanggung jawab atas seorang manusia baru, yang masih kecil, yang bergantung sepenuhnya pada perhatian dan pengasuhannya (dalam hal ini saya menitikberatkan dalam hal biologis dan tidak berpikir ayah tak mengambil peran dalam pengasuhan). Karena itupula, bagi saya, tugas ini menjadi sangat terpuji (mohon dipahami bahwa ini tidak berarti bahwa saya menganggap para perempuan yang tidak melahirkan tidak terpuji – saya masih berkeyakinan bahwa perempuan juga memiliki hak untuk melahirkan dan juga untuk tidak melahirkan).

 

Tugas Reproduksi Bagian Perempuan Perlu Diapresiasi Laki-Laki

Para laki-laki pun butuh menyadari dan menghayati peran biologis perempuan yang tidak mudah ini. Para perempuan, para istri, melahirkan anak-anak yang juga adalah anak mereka. Anak itu tetap menjadi anak bersama, anak pasangan suami dan istri tersebut (bukan hanya anak istrinya, “anak ibu”). Keputusan untuk reproduksi (seharusnya) adalah keputusan bersama antara suami dan istri. Hubungan seksual dan proses pembuahan, misalnya, tak bisa dilakukan perempuan sendirian. Para lelaki mengambil peran pula dalam hal ini dan mereka seharusnya menghargai perempuan yang kemudian melanjutkan tugas biologis itu sendirian (dalam mengandung, melahirkan, sampai menyusui). Betapa sedihnya ketika kemudian lelaki menyalahkan (tubuh) istrinya yang menjadi melar dan tidak menarik akibat proses reproduksi biologis ini. Nyatanya, para lelaki juga membutuhkan proses reproduksi tersebut untuk melanjutkan keturunan (khususnya mereka dari budaya patriarkhi). Nyatanya, para lelaki pun lahir dari proses reproduksi yang harus banyak diperankan perempuan tersebut. Tidak ada laki-laki yang tidak lahir dari rahim perempuan (kecuali Adam, dalam beberapa kepercayaan).

Dalam hal masalah kebutuhan seksual, dalam keyakinan bahwa para perempuan juga memiliki kebutuhan seksual yang sama besarnya dengan laki-laki, saya kira seharusnya dapat lebih fleksibel dibicarakan dengan pasangan dalam konteks pernikahan. Saling mengutamakan yang lain dan tidak mencari kepuasan sendiri – rela saling mengupayakan yang terbaik untuk kepuasan yang lain. Misalkan mengenai perawatan tubuh perempuan setelah melahirkan. Saya tidak menganggap itu salah, jika tidak dilakukan dalam konteks hierarkis. Dalam arti bukan hanya semata-mata untuk menyenangkan suami, tanpa suami peduli kebutuhan dan kepuasan seksual istri. Bagaimanapun, para suami memiliki tugas yang sama dengan para istri, untuk menjamin kepuasan seksual pasangannya dalam pernikahan. Mereka perlu bertanya preferensi pribadi sang istri dalam hal seksual dan jika itu terkait dengan tubuh laki-laki, upayakan juga hal itu sebagaimana istri mengupayakan hal sama untuk suami. Setara dalam hal seksual, menurut saya, sangat penting untuk sebuah pernikahan.

Akhirnya, menutup tulisan ini, saya amat sadar bahwa saya belum mengalami semua ini secara personally. Saya memang belum menikah, belum pernah mengandung-melahirkan-atau-menyusui (tapi selalu mengalami menstruasi setiap bulan yang kadang menyakitkan) – tetapi saya ingin speak up melalui tulisan ini. Tulisan ini lahir dari kegelisahan, dari pengalaman yang dialami para perempuan di sekeliling saya, yang tentu tidak bisa saya acuhkan begitu saja. Sekali lagi, saya percaya bahwa menjadi ibu adalah sebuah tugas yang tidak mudah tetapi tetap istimewa bagi para perempuan (mohon diingat bahwa saya membicarakan hal ini di luar konteks kehamilan akibat keterpaksaan atau pemerkosaan, saya kira konteks ini harus dibahas dalam tulisan dan cara pandang yang berbeda lagi, karena telah terkait masalah power inequality antar jenis kelamin). Saya berharap para lelaki ingat, bahwa ternyata, tidaklah mudah mengemban tugas reproduksi biologis ini. Ya, tidak mudah untuk menjadi seorang ibu. Saya berharap semakin banyak laki-laki yang dapat mengapresiasi, menghargai, tugas biologis perempuan ini. Salah satunya, adalah dengan tidak menjadikan dampak tugas reproduksi biologis pada tubuh perempuan sebagai alasan perselingkuhan.

 

Masalah Pada Terlalu Kaku

Masalahnya bukan pada pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Selama tidak melahirkan social inequality dan berfokus pada upaya saling melengkapi, pembagian peran itu baik adanya. Masalahnya bukan pada pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Masalahnya pada perihal “terlalu kaku”. Terlalu kaku sehingga melupakan konteks-konteks kondisi zaman, kondisi khusus, yang tidak ideal yang mungkin terjadi kemudian. Terlalu kaku menciptakan masalah baru.

Seorang teman saya pernah bercerita. Di rumahnya, pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki sangat tegas. Masalah cuci-masak-dan-bersih-bersih adalah urusan perempuan. Masalah mencari nafkah dan perihal memperbaiki itu-dan-ini adalah urusan laki-laki. Laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan perempuan. Misalnya, sang ayah tidak akan pernah menyentuh urusan cuci-mencuci atau masak-memasak seumur hidupnya. Sebaliknya, perempuan juga tidak seharusnya mengerjakan pekerjaan laki-laki. Misalnya, ibunya yang harus menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, tidak boleh bekerja di luar rumah karena itu pekerjaan laki-laki.

Sejauh ini, cerita teman saya, semuanya terkendali. Kondisi ideal. Tidak ada kondisi khusus yang menyebabkan pengerjaan peran masing-masing terganggu. Namun, jika muncul kondisi tidak ideal? Nyatanya, banyak kondisi tidak ideal terjadi dan dialami banyak perempuan, juga laki-laki.

Perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah karena seharusnya perempuan total mengurusi masalah domestik keluarga dan rumah tangga. Lalu, bagaimana dengan para perempuan yang ditinggal mati atau ditinggal pergi suami (tanpa pernah kembali lagi) dan harus bertanggung-jawab terhadap anaknya sendiri? Apakah para perempuan ini tidak boleh bekerja juga? Apakah para perempuan ini harus berkutat pada urusan domestik dan  tidak boleh menjamah ranah publik, lalu bagaimana urusan biaya keberlangsungan hidup anak dan keluarga tanpa suami? Apakah para perempuan ini harus menikah lagi hanya karena tidak boleh bekerja di ranah publik?

Laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga, karena itu bagian perempuan. Laki-laki tidak boleh dan tidak perlu mencuci, memasak, bersih-bersih. Lalu, bagaimana jika laki-laki ditinggal mati (atau ditinggal pergi, meski kasusnya mungkin lebih jarang) oleh istri? Apakah laki-laki akan menikah lagi hanya karena tidak boleh mencuci, memasak, dan bersih-bersih? Apakah laki-laki harus menikah lagi hanya karena tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga yang seharusnya diperankan oleh istrinya?

Atau, mungkin, tidak ada cerita ditinggal pergi atau ditinggal mati istri atau suami – tapi tetap saja ada kondisi-kondisi khusus, seperti ketika salah satu sakit. Apakah karena laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik keluarga, maka laki-laki tidak boleh menggantikan tugas istrinya untuk bersih-bersih ketika istrinya sakit atau baru melahirkan? Apakah karena perempuan tidak boleh mengerjakan pekerjaan publik yang dianggap menjadi tugas laki-laki, maka perempuan tidak boleh menggantikan tugas suaminya untuk mencari nafkah meskipun suaminya kemudian menderita sakit parah yang menyebabkan ketidakmampuan mencari nafkah sama sekali? Beberapa kenalan saya, perempuan dan laki-laki, mengalami kondisi-kondisi seperti ini. Mereka jadi tahu untuk adaptif dan fleksibel terhadap perubahan kondisi yang terjadi.

Saya jadi ingat label pekerjaan perempuan yang disebut dapur-sumur-kasur. Masalah terlalu kaku yang berasal-dan-dipadankan dengan sistem patriarkhi yang mengopresi melahirkan istilah ini. Cap-cap “ini pekerjaan perempuan” – seperti pekerjaan-pekerjaan domestik – membuatnya menjadi pekerjaan kelas dua. Pekerjaan domestik derajatnya berada di bawah pekerjaan publik. Masalah pada terlalu kaku pun bertambah semakin kaku. Di bawah doktrin patriarkhi, sudah wajar, laki-laki tidak akan ingin mengerjakan pekerjaan perempuan yang dianggap pekerjaan kelas dua. Masalahnya sudah semrawut, menyoal pride dan harga diri laki-laki. Begitupun, para perempuan juga merasa sama. Perempuan jadi lebih senang dengan pekerjaan publik daripada domestik (harus diakui, saya tak terkecuali, oh dampak opresi patriarkhi). Siapa sih yang mau mengerjakan pekerjaan kelas dua jika ada pilihan pekerjaan kelas satu? Itu logikanya saja.

Saya tahu, bahwa tak semua mengalami “kekakuan yang terlalu” ini. Sekarang, banyak laki-laki yang meski tidak berprofesi sebagai seorang chef, mahir memasak (bahkan lebih mahir dari istrinya). Banyak perempuan yang sudah berkarir bagus. Banyak juga laki-laki yang tidak keberatan membantu istrinya bersih-bersih rumah, atau perempuan yang tidak keberatan bekerja demi membantu suami menanggung perekonomian keluarga. Namun, saya ingin sekedar mengingatkan, bahwa tak semua juga tidak mengalami “kekakuan yang terlalu” ini. Khususnya, untuk konteks keluarga-keluarga dari budaya patriarkhial. Contohnya, teman saya tadi. Karena itulah, saya menulis tulisan ini.

Masalahnya jelas ada pada terlalu kaku. Kita tidak adaptif, tidak menyesuaikan diri dengan kondisi dan zaman yang berubah pasti. Kita tidak saling memahami. Tidak saling mengerti. Kita terlalu berorientasi (mengkotak-kotakkan diri) kepada peran, bukan tujuan. Mengapa kita tidak saling membantu dan saling menolong agar peran masing-masing dapat tuntas diselesaikan demi mencapai tujuan (bersama)? Mengapa kita terlalu sibuk dan ego mengurusi peran sendiri dan tidak mau diributi dengan peran yang lain? Misalkan, jika itu rumah tangga, mengapa suami dan istri tidak saling menolong peran tanpa menjadi terlalu kaku agar tujuan kesejahteraan keluarga tak terabaikan?

Dalam kekakuan kita, dalam ke-patriarkhi-an kita, kita juga melabel dan memberi kelas-tingkatan pada peran-peran. Ada kelas satu dan ada kelas dua. Ada yang mulia dan ada yang hina. Mengapa tidak melihat semua peran itu baik adanya dan signifikan untuk dilakukan demi mencapai tujuan? Bahwa tujuan tidak akan tercapai jika satu peran saja hilang dan luput dilakukan?

Dalam sebuah diskusi di chat room dengan seorang teman laki-laki yang menganut patriarkhi, saya juga pernah mendengar argumentasi ini. Cerita masalah pada “terlalu kaku” yang lain lagi. Sebagaimana kita tahu, patriarkhi menempatkan perempuan di kelas dua, di bawah laki-laki. Laki-laki yang harus jadi pemimpin, yang harus memimpin perempuan. Lalu teman saya yang menganut patriarkhi berkeyakinan, berargumentasi, “Itu mengapa seharusnya perempuan tidak menjadi pemimpin dimanapun – bukan hanya dalam keluarga, tapi di kantor juga. Karena, peran memimpin itu adalah peran laki-laki, bukan peran perempuan.”

Pertanyaan saya meluap kemudian : apakah karena keyakinan bahwa laki-laki berperan sebagai pemimpin, perempuan tidak boleh memimpin meskipun laki-laki yang ada tidak berkapasitas dan tidak berkapabilitas untuk memimpin? Sebutlah, dalam konteks kompetisi kantor atau akademisi. Perempuan tidak boleh jadi manager, supervisor, direktur. Perempuan tidak boleh jadi ketua kelas, ketua kelompok, ketua OSIS atau ketua BEM. Sungguh? Harus sekaku itu? Sekalipun kapasitas dan kapabilitas perempuan tersebut jauh di atas kapasitas dan kapabilitas laki-laki yang ada di tempat itu? Sangat disayangkan.

Jujur saja, bahkan di sekeliling saya saat ini, saya cukup banyak melihat para perempuan berkapasitas-berkapabilitas di atas rata-rata dan para laki-laki yang belum bisa sebaik mereka (maaf, tanpa mendiskreditkan seluruh kaum laki-laki – tentu saja masih ada laki-laki yang berkapasitas dan berkapabilitas untuk memimpin dan telah menjadi pemimpin di sekitar saya – lagi-lagi, saya berbicara konteks spesifik, bukan generalisasi). Kekakuan yang didikte patriarkhi ini yang kemudian menjadi pembenaran terhadap social inequality, misalnya, perempuan tidak perlu sekolah, tidak perlu belajar karena hanya akan mengurusi rumah tangga di rumah dan tidak boleh jadi pemimpin pun di ranah publik. Pembenaran untuk menjaga perempuan “tetap di bawah” laki-laki, dalam opresi dan kebodohan tersistemisasi. Padahal, jika perempuan memiliki banyak kapasitas dan kapablitas lebih, bukannya ia juga dapat lebih banyak menolong suaminya nanti seandainya ia menikah?

Saya percaya, terlalu kaku menciptakan masalah baru. Bayangkan saja, jika yang tidak berkapabilitas harus memimpin atau jika yang sedang tidak berdaya harus mati-matian tetap mengerjakan peran yang ditetapkan menjadi tugas tanpa ada yang membantu sama sekali. Belum lagi social inequality tersistemisasi yang sudah saya sebut di atas tadi.

Dalam hal ini, kekakuan bukanlah jawaban apalagi solusi. Orientasi kepada tujuan bersama dan upaya masing-masing untuk mengerjakan peran dan saling membantu peran adalah kuncinya. Saling melengkapi tanpa menjadi terlalu kaku. Jadi, pembagian peran antara perempuan dan laki-laki itu baik. Menurut saya, menjadi terlalu kaku adalah masalah yang sesungguhnya.

Melangkahi Kodrat Sebagai Wanita

Melangkahi kodrat sebagai wanita. Kata-kata ini saya baca baru-baru ini, ketika saya iseng berselancar di salah satu media sosial. Ceritanya, seorang teman saya yang berpandangan feminis mencoba berbagi pemikirannya, dan seorang teman lain kemudian mengomentari. Teman saya yang berpandangan feminis hanya singkat bertanya, setelah membaca beberapa buku Ayu Utami – bertanya tentang prosesi adat pernikahan dari salah satu suku : pengantin wanita akan mencium tangan pengantin pria dan membasuh kaki pengantin pria – tetapi mengapa tidak sebaliknya? Disanalah kata-kata melangkahi kodrat sebagai wanita ini muncul, dari komentar teman yang satunya. Mengggugah saya untuk bertanya, berpikir, dan menulis tulisan ini.

Sebelum menulis disini, saya banyak jalan-jalan dulu di google. Saya ingin tahu pandangan, tulisan, orang-orang mengenai melangkahi kodrat sebagai wanita ini. Kebanyakan ditulis dari sudut pandang salah satu agama, atau ditulis sekedar dengan berdasar keinginan untuk menulis. Tidak salah sih, tapi setelah membaca tulisan-tulisan itu, saya paham bahwa mereka sama sekali belum mengerti mengenai studi gender (yang sebenarnya sudah diperhatikan dan dipertimbangkan dalam ranah sosial di dunia internasional) sebelum membahas soal melangkahi kodrat perempuan atau feminisme. Tulisan-tulisan tersebut sungguh dapat diperdebatkan, tapi lagi-lagi sebagaimana saya berhak menulis yang saya pikir-dan-rasakan di halaman ini, mereka juga berhak menulis yang mereka pikir-dan-rasakan di halaman blog mereka.

Nah kodrat itu sebenarnya apa? Tentu kita harus memahami dengan benar dulu arti kata kodrat sebelum merasa bebas menggunakannya. Jangan sampai ternyata kita salah menggunakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kodrat berarti (1) kekuasan (Tuhan): contohnya, manusia tidak mampu menentang kodrat atas dirinya sebagai makhluk hidup; (2) hukum (alam): contohnya, benih itu tumbuh menurut kodratnya; (3) sifat asli, sifat bawaan: contohnya, kita harus bersikap dan bertindak sesuai dengan kodrat kita masing-masing.

Jadi, setidaknya ada tiga defenisi untuk menjelaskan kata kodrat. Pertama, kekuasan Tuhan. Kedua, hukum alam. Ketiga, sifat asli atau sifat bawaan. Beracuan pada defenisi pertama ini tentang kekuasaan Tuhan, dalam pemikiran kritis, saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan atau mendebat pandangan-pandangan melangkahi kodrat sebagai perempuan yang dilihat dengan pijakan nilai-nilai agama atau kitab suci tertentu. Ranah ini sudah berbeda. Mendefenisikan lagi batas-batas kekuasaan Tuhan juga sudah sangat abstrak sekaligus luas. Saya pikir kitab suci juga dapat diinterpretasi dan ditafsir macam-macam oleh berbagai orang mengenai kekuasaan Tuhan. Saya tidak ingin banyak berkomentar mengenai hal-hal agamis disini, saya hanya berharap tafsiran agama yang dipakai tidak salah dan dapat dipertanggungjawabkan jika menyinggung tentang melangkahi kodrat sebagai perempuan. Ya, itu kepercayaan masing-masing. Yang jelas, tidak semua agama atau kepercayaan di dunia melihat perempuan sebagai subordinat laki-laki. Lagi-lagi tergantung agama apa, sangat relatif.

Namun jika bertitik-tolak dari defenisi nomor dua dan nomor tiga, mengenai hukum alam dan sifat asli atau sifat bawaan, pembahasannya berbeda lagi. Nah, saya lebih tertarik dan lebih ingin fokus kepada dua defenisi ini saja.

Hukum alam atau sifat asli dapat merujuk kepada sesuatu yang sifatnya biologis. Misalkan, hewan-hewan seperti macan, harimau, dan singa, sebagai hewan karnivora akan memakan hewan-hewan herbivora. Atau, perihal menstruasi dan melahirkan yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan dan bukan laki-laki. Ini kodrat. Tidak bisa ditentang, karena tidak ada pilihan alternatif lain selain hal kodrati ini. Karena, hal kodrati tidak bisa diubah, dan yang membuatnya tidak bisa diubah adalah faktor mutlak biologis.

Apa hewan karnivora seperti macan bisa diberi makan roti atau daun-daunan? Apa laki-laki bisa menstruasi dan melahirkan? Tidak. Tidak ada pilihan. Itulah kodrat, hukum alam, sifat bawaan. Tapi mengenai perempuan mencium tangan laki-laki atau laki-laki menjadi kepala rumah tangga? Apa tidak bisa laki-laki mencium tangan perempuan atau perempuan menjadi kepala rumah tangga?

Bisa. Yang membuatnya seakan-akan tidak bisa diubah atau sepertinya tidak mungkin diubah adalah norma-norma sosial masyarakat tertentu yang dianut yang berkajang pada patriarkhi dan telah mendikte ini-dan-itu mengenai perempuan dan laki-laki. Tapi itu konstruksi sosial, bukan faktor mutlak biologis kan? Hei, norma sosial masyarakat bisa berubah, bisa bergeser, bisa hilang-lenyap bahkan. Sosiologi mengatakan demikian, perubahan sosial dapat terjadi.

Sebagai catatan penting, norma sosial juga cenderung berbeda-beda di setiap masyarakat yang berbeda. Misalnya, dalam adat Suku Batak atau Jawa di Indonesia, memang menganut patrineal dan patriarkhi – dimana laki-laki adalah kepala rumah tangga dan garis keturunan mengikut nama laki-laki. Namun, tahu gak ada Suku The Mosuo di China dan The Aka di Central African Republic & Republic Democratic of Congo yang menganut norma bahwa perempuan adalah kepala rumah tangga dan garis keturunan akan ikut garis perempuan? Rasanya kita perlu mencoba melihat dunia lebih luas, di luar kebudayaan kita. Ternyata ada tuh masyarakat yang justru matriarkhi dan matrineal. Nah untuk mereka, apa kita bisa bilang, dengan menganut matriarkhi-matrineal mereka sudah melangkahi kodrat sebagai wanita? Relatif, dong. Relatif banget.

Karena itu, saya pikir, kita perlu kembali me-redefenisi arti kalimat melangkahi kodrat sebagai wanita. Bahkan jika perlu, meninggalkan penggunaan kata-kata ini. Saya pikir, kata-kata ini hanya cenderung menghakimi. Apalagi, dengan pemakaian yang salah, kita cenderung menjadi sangat subjektif dalam penilaian kita terhadap yang mana kodrat yang mana bukan kodrat. Apalagi, kata-kata melangkahi kodrat ini lebih banyak dimaksudkan untuk menghajar para perempuan yang dianggap sudah menyalahi kodrat. Lah, lalu laki-laki? Tidak ada laki-laki yang menyalahi kodrat?

Coba cari di-google, coba ketik melangkahi kodrat sebagai laki-laki. Yang akan kamu temukan, malah sebaliknya: artikel-artikel yang lebih banyak menyoal soal kodrat perempuan, bukan laki-laki. Bagi saya, ini sudah pertanda ketimpangan gender yang terjadi : masalah melangkahi kodrat hanya berat dibahas-ditujukan kepada kaum perempuan. Kaum laki-laki tak banyak disinggung mengenai melangkahi kodrat. Saya berpikir, jangan-jangan wacana melangkahi kodrat sebagai wanita ini disebut-sebut sebenarnya hanya sebagai bentuk kontrol yang lain terhadap (konstruksi) keperempuanan perempuan? Sedih sekali.

Lagipula, bahkan, menurut saya, hal-hal yang tampaknya kodrati pun harus kritis dibahas lagi dalam realisasinya. Misalkan, sudah kodratnya perempuan melahirkan. Lalu, jika perempuan tidak melahirkan, apakah kita bisa seenak jidat mengatakan perempuan tersebut melangkahi kodratnya sebagai perempuan karena tidak melahirkan? Padahal, alasan yang melatar-belakangi bisa beragam : dari masalah biologis seperti masalah pada sperma pasangannya atau pada rahimnya, sampai pilihan perempuan yang mungkin belum siap menjadi orang tua. Ya, saya pikir, pilihan melahirkan tidak melahirkan itu juga hak perempuan. Memangnya mudah menjadi orang tua yang bertanggung-jawab penuh atas generasi yang dilahirkannya? Karena itu, rasanya mengucapkan melangkahi kodrat sebagai wanita itu kepada perempuan sebenarnya tak lebih dari tindakan penghakiman dan cibiran semata, sangat subjektif dan bias sekali.

Saya berharap, kata-kata seperti ini, kata-kata melangkahi kodrat sebagai wanita tidak akan pernah saya dengar atau saya baca lagi. Dimanapun, ditujukan untuk siapapun. Bisakah saya berharap untuk yang satu ini?

p.s. :

Ada satu tulisan dari penulis lain yang sangat saya rekomendasikan dibaca setelah membaca tulisan ini. Tulisannya menyoal tentang melangkahi kodrat sebagai wanita juga. Uniknya, tulisan ini ditulis oleh seorang laki-laki. Dari tulisannya, kiranya lebih banyak yang mengerti bagaimana membedakan kodrat dan konstruksi (sosial). Mempertanyakan Kodrat Laki-Laki dan Perempuan, oleh Syaldi Syahude.

Tidak Semua Laki-Laki

Suatu kali saya terlibat sebuah pembicaraan seru dengan rekan-rekan kerja saya di lapangan. Semuanya laki-laki, terkecuali saya. Kali ini tentang kegiatan senam pagi ibu-ibu di wilayah kompleks mereka tinggal. Pembicaraan ini menarik. Kenapa? Karena mengingatkan saya, bahwa tak semua laki-laki juga setuju dengan sexist social label yang digeneralisasikan kepada mereka.

Siapa yang bilang bahwa laki-laki selalu akan berpikiran sensual dan seksual, khususnya dalam kondisi yang dianggap memancing hasrat seksual (misalnya seperti melihat ibu-ibu senam pagi di luar rumah)? Hei. Jangan digeneralisasi. Tak semua laki-laki.

Ceritanya, para rekan kerja saya yang semuanya adalah ayah berusia 30-an dengan satu anak ini merasa kesal dengan peraturan di daerah tempat tinggal mereka yang tidak memperbolehkan ibu-ibu senam pagi di luar rumah—di tempat terbuka. Bukannya mereka kesal karena mereka kepingin atau senang melihat ibu-ibu senam pagi dan peraturan itu menghalangi mereka lho. Mereka kesal justru karena generalisasi yang dijadikan alasan pelarangan: bahwa ibu-ibu yang senam pagi di luar rumah itu akan mengundang perselingkuhan para bapak-bapak di daerah tersebut. Menarik.

Memang sudah pernah ada satu kasus perselingkuhan yang terjadi—yang sebenarnya belum terbukti apakah perselingkuhan itu terjadi akibat senam pagi ibu-ibu di luar rumah atau tidak. Yang tentu saja tidak bisa juga serta-merta dijadikan pembenaran terhadap pelarangan ini. Peraturan itu juga diciptakan oleh bapak-bapak lainnya, dalam arti, sesama lelaki menuduh lelaki lainnya, dengan generalisasi yang sexist sekali. Aduh.

Rekan-rekan kerja saya merasa peraturan (atau larangan) dengan alasan generalisasi sexist itu semacam penghinaan. Mereka tidak terima bahwa semua laki-laki disama-ratakan punya kecenderungan selingkuh hanya dengan melihat perempuan senam pagi di tempat terbuka—dengan jenis pakaian apapun (ibu-ibu yang senam pagi di kompleks mereka, semuanya memakai hijab dan celana-baju berlengan panjang). Saya tak banyak berkomentar saat itu, hanya mendengar dan senyum-senyum sendiri. Saya senang mendengar bahwa mereka kesal karena generalisasi sexist semacam itu. Berarti, tak semua laki-laki bisa disamakan. Berarti, masih ada harapan.

Pembicaraan teman saya yang tampaknya sepele – tetapi ternyata mengandung refleksi penting – ini membuat saya ingin mengingatkan bahwa generalisasi sexist merupakan salah satu hal kejam yang bisa di-paksa-kenakan oleh laki-laki kepada perempuan, maupun perempuan kepada laki-laki – bahkan oleh sesama laki-laki atau sesama perempuan. Entah maksudnya bercanda atau serius, generalisasi sexist tidak seharusnya existed. Bukan karena ada yang seperti itu atau banyak yang seperti itu—kita lalu melabel semuanya dengan kata selalu begitu.

Para perempuan juga memiliki kemungkinan untuk “menghakimi” para laki-laki dengan generalisasi ini. Harus diakui, banyak juga perempuan para korban patriarkhi dan mereka yang kemudian mendukung gerakan bela perempuan, menjadi semacam anti laki-laki. Menganggap laki-laki selalu begini dan begitu—disesuaikan dengan pengalaman masing-masing. Padahal, tak semua laki-laki seperti itu. Itu hanya sebagian laki-laki.

Kerentanan ini dapat menyebabkan kaum perempuan yang menjadi misandry dan anti laki-laki salah memahami dan mengejar tujuan feminisme. Feminisme jelas mengejar equality, kesetaraan, bukan perempuan di atas laki-laki. Bukan perempuan menjadi pusat dan penguasa segala—tetapi perempuan bersama laki-laki. Bersama-sama, dalam kesetaraan. Feminisme memang mengambil sikap untuk anti-patriarchy, tetapi yang harus diingat—patriarchy adalah sistem, bukan manusia laki-laki.

Nyatanya, saya menemukan tak sedikit laki-laki baru yang sudah paham mengenai isu gender dan mendukung gerakan feminisme. Bahkan, mereka juga anti-patriarchy dan mengejar equality. Mereka pun ikut berdiri bersama kaum perempuan untuk mengusahakan kesetaraan. Masa mereka ini juga mau disamakan dengan (laki-laki) yang  tidak (atau belum) seperti mereka?

Membahas hal ini, saya sangat mengapresiasi salah satu gerakan gender yang berfokus kepada laki-laki bernama Aliansi Laki-Laki Baru. Gerakan ini merupakan gerakan asuhan feminisme dan banyak mendiskusikan isu-isu maskulinitas dalam kacamata kesetaraan. Tentu laki-laki baru yang menjadi bagian gerakan ini juga tak bisa kita samakan dengan laki-laki yang tidak (atau belum) sadar gender seperti mereka ini kan?

Bagi saya, sangat unfair untuk melabel kelompok gender tertentu dengan generalisasi sexist tertentu. Dan, sangat tidak sehat. Labelling negatif terhadap para laki-laki, sebagai kaum yang selalu berpikiran sensual misalkan, justru bisa menghasilkan kondisi seperti yang dikatakan label tersebut—meski sebelumnya tidak demikian. Karena itu, bukannya lebih baik untuk kita me-label dengan hal-hal positif dibandingkan yang negatif? Sehingga yang akan lahir juga hal-hal positif.

Tidak semua laki-laki. Tidak semua.

Let’s stop generalizing and labelling. Let’s stop act like an misandry and anti-man. Instead, let’s pursue peace and equality altogether. For equality, cheers!

Patriarkhi & Moment “Eureka”

Eureka adalah seruan kegembiraan untuk sebuah penemuan. Berasal dari bahasa Yunani, eureka berarti “aku telah menemukankannya.” Eureka terkenal karena andil salah satu scientist bernama Archimedes. Archimedes menyerukan “Eureka!” saat berhasil menemukan teori yang kemudian disebut dengan Hukum Archimedes. Saat itu, ia sedang mandi. Archimedes masuk ke dalam bak mandi dan menyadari bahwa permukaan air naik setelah ia masuk, sehingga ia menemukan bahwa berat air yang tumpah sama dengan gaya yang diterima oleh tubuhnya. Karena penemuan itu, ia kemudian berteriak riang-gembira, “Eureka!”.

Sebagaimana Archimedes, saya kira, setiap orang harus menemukan pengalaman “Eureka”-nya sendiri—untuk menyadari mengenai realita patriarkhi yang cenderung mengopresi. Pengalaman itu bisa lahir kapan saja, dari apa saja. Mungkin dari masa lalu dan mungkin dari masa sekarang ini, atau bisa jadi dari paduan keduanya. Yang jelas, setiap orang harus memiliki pengalaman patriarkhi yang mengopresi (baik) diri sendiri maupun diri orang lain—kemudian menyadari kesalahan patriarkhi. Bahwa, dunia akan lebih damai dengan equality dan bukan dominasi. Moment itulah yang saya sebut moment “Eureka”. Saya yakin, bahwa setiap perempuan maupun laki-laki yang telah berdiri bersama kaum perempuan, pro-feminist, sudah mengalami moment “Eureka”-nya masing-masing.

Sayangnya, memang banyak orang belum menemukan moment “Eureka”-nya. Mereka lengah dan terlena oleh sistem budaya sexist patriarkhis yang diterima secara taken for granted. Mereka sedia angguk-angguk kepala tanpa bertanya untuk ikut arus konformitas yang telah menyusun A sebagai A dan B sebagai B: yang telah mendoktrinasi bahwa perempuan wajar dan seharusnya memang ada di bawah laki-laki. Laki-laki harus memimpin (meskipun tak semua memiliki kapasitas untuk memimpin) dan perempuan harus ikut, dipimpin. Tak sadar, dampaknya bisa carut-marut sampai diskriminasi, opresi, dan marginalisasi. Bahkan, pemiskinan terhadap perempuan. Jangankan laki-laki (yang memang merupakan kelompok yang menerima keuntungan dari kekuasaan patriarkhi), perempuan saja banyak yang belum celik akan ini. Sungguh disesali.

Sayangnya, memang patriarkhi di-sistemisasi tidak hanya secara budaya, tetapi juga secara agama. Kalau sudah bicara mengenai nilai-nilai agamis, kecenderungannya orang hanya akan bilang amin. Ikut tanpa perlawanan atau pertanyaan. Tidak berani mengevaluasi, merasionalisasi (karena katanya, agama yang sifatnya spiritual memang tidak masuk akal). Disinilah hegemoni patriarkhi semakin langgeng. Apalagi jika dikaitkan dengan ketuhanan. Mendorong saya kembali mempertanyakan: Benarkah Tuhan memang mengingini sistem patriarkhi dalam segala sisi dan situasi? Bahkan jika patriarkhi lebih banyak menindas dalam realita daripada memproteksi?

Moment “Eureka” saya terjadi saat saya masih mahasiswa semester V di kampus kuning. Moment itu diawali dengan keputusan saya untuk mengambil kelas “Gender & Struktur Sosial” lalu belajar mengenal feminisme disana. Di kelas itu, terjadi re-refleksi setiap kali materi diberi : saya banyak retreat dan flashback pengalaman masa lalu, terkait patriarkhi yang kental saya alami dalam keluarga yang berlatar-belakang budaya salah satu suku paling patriarkhi di Indonesia. Pengalaman-pengalaman yang selama ini tidak saya sadari mengopresi. Di kelas itu, moment penemuan dikukuhkan dengan realita yang kemudian saya lihat banyak terjadi di sekitar dan tidak di sekitar saya: ketimpangan gender dimana-mana dan chaos merajalela di mata saya. Saat itulah, saya sadar bahwa patriarkhi begitu mendominasi. Saat itulah, saya menyadari kesetaraan gender adalah salah satu solusi. Eureka!

Saya menyadari, moment “Eureka” terkait erat dengan pengalaman dan edukasi. Pengalaman, tentu saja akan membedakan satu sama lain dalam melihat isu kesetaraan gender. Tentu akan berbeda pandangan antara perempuan yang dibesarkan dalam keluarga patriarkhi kental diskriminasi gender dengan perempuan yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dalam kesetaraan gender. Tentu akan berbeda pandangan antara laki-laki yang memiliki saudara atau keluarga yang pernah menjadi korban kekerasan seksual, dengan laki-laki yang sama sekali jauh dari isu dan pengalaman kekerasan seksual. Bahkan, tentu akan berbeda pandangan antara perempuan yang besar dalam sistem patriarkhi di daerah urban dan perempuan yang besar dalam sistem patriarkhi di daerah rural. Saya tidak bisa langsung menyimpulkan yang mana yang kemudian akan berpotensi lebih feminist dan pro-perempuan, karena pengalaman tidak berdiri sendiri dalam moment “Eureka” ini. Pengalaman terkoneksi dengan edukasi. Tanpa edukasi gender yang memadai, saya kira pengalaman pun tak bisa mengubah banyak. Kita bisa terus terbuai dan tak sadar bahwa pengalaman itu mengandung realita opresi. Kita butuh dicerahkan, dicelikkan, dibangunkan, dibangkitkan (diedukasi!) mengenai isu ketimpangan serta kesetaraan gender.

Pikiran terbuka tentu saja menjadi kuncinya. Saya pikir, seseorang bisa saja diedukasi mengenai kesetaraan gender tetapi tetap tak tercerahkan jika dari awal telah memberikan penolakan, meski terselubung. Dalam hal ini, penting untuk membayangkan standing in their shoes (kaum perempuan yang menjadi korban dari sistem patriarkhi). Coba belajar simpati dan berempati, dalam konteks kondisi yang terjadi. Juga, penting untuk menanggalkan (meski untuk sementara) segala ideologi sexist patriarkhis yang sudah dianut selama ini. Berani mempertanyakan ulang, berani bersikap kritis untuk melihat ketimpangan. Berani belajar memahami apa yang terjadi dari kacamata korban patriarkhi.

Moment “Eureka” lahir dari re-refleksi. Dari pengalaman dan pengetahuan dan kesadaran. Karena itu, sungguh saya berharap, akan lebih banyak orang (lebih banyak laki-laki, lebih banyak perempuan) yang mengetahui dan menyadari isu ini setelah mengalami—demi menemukan moment “Eureka” yang mencelikkan mata terhadap patriarkhi yang mengopresi. Tak terkecuali kamu yang membaca tulisan ini. Saya menanti untuk mendengarmu berteriak, “Eureka!” dan ikut berdiri untuk mewujudkan dunia yang lebih setara untuk semua. Siap teriak “Eureka”?

Women’s March Jakarta 2017: Pencerahan Ulang

Hari itu hari Sabtu, bertanggal 4 Maret 2017. Cerah dan penuh gairah di perempatan Sarinah. Dengan baju-baju berwarna pink dan ungu, dengan poster-poster dan semangat membara. Ratusan perempuan (juga laki-laki) segala orientasi seksual berdiri, bersama-sama bersuara demi kesetaraan. Tak terkecuali saya. Hari itu, dalam empat jam bersama-sama di long march, orasi, dan pertunjukan seni-budaya rekan-rekan rekan feminist, dari Sarinah sampai depan Istana Negara, saya melalui proses pencerahan sekali lagi. Sebuah pencerahan ulang kembali.

Women’s March Jakarta 2017 bagi saya bukan digelar sekedar aksi ikut-ikutan kelompok perempuan feminist di Amerika Serikat sana (terkait Women’s March di Washington DC pada 21 Januari 2017). Women’s March Jakarta 2017 tidak diselenggarakan hanya karena solidaritas internasional kaum perempuan—lebih dari itu, isu-isu yang diangkat, dibahas, dan dikampanyekan dalam acara ini sangat kontekstual. Sangat Indonesia. Tentu, bersama segala masalah ketimpangan dan ketidaksetaraan gender-nya. Kaum feminist Indonesia tidak bicara mengawang-awang ke masalah yang jauh dari perempuan Indonesia. Sebaliknya, kaum feminist Indonesia bicara tentang sesuatu yang dekat dan nyata di negeri sendiri, yang tengah terjadi, yang dialami dan harus diatasi.

Ada 8 tuntutan Women’s March Jakarta 2017. 1. Menuntut Indonesia kembali ke tolerani dan keberagaman. 2. Menuntut pemerintah mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan gender. 3. Menuntut pemerintah dan masyarakat memenuhi hak kesehatan perempuan dan menghapus kekerasan terhadap perempuan. 4. Menuntut pemerintah dan masyarakat melindungi lingkungan hidup dan pekerja perempuan. 5. Menuntut pemerintah membangun kebijakan publik yang pro-perempuan dan pro-kelompok marjinal lain, termasuk perempuan difabel. 6. Menuntut pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan perempuan di bidang politik. 7. Menuntut pemerintah dan masyarakat menghormati dan menghapus diskriminasi terhadap kelompok LGBT. 8. Menuntut pemerintah dan masyarakat lebih memperhatikan isu global yang berdampak pada perempuan, serta membangun solidaritas dengan perempuan di seluruh dunia.

Dalam Women’s March Jakarta 2017, saya kembali benar-benar menyadari bahwa isu perempuan di Indonesia nyatanya sangat luas. Ketidaksetaraan gender menyapu begitu banyak bidang kehidupan perempuan. Saya bertemu banyak aktivits perempuan yang menyuarakan isunya masing-masing dalam orasi. Isu yang bahkan saya harus akui saya luput untuk memperhatikan selama ini. Isu diskriminasi dan kekerasan yang dialami kelompok perempuan difabel, isu ketidaksetaraan yang dialami para perempuan adat, sampai isu ekofeminisme yang diperjuangkan para perempuan penjaga lingkungan. Masalah buruh migran perempuan. Masalah kesempatan partisipasi kaum perempuan dalam politik. Masalah budaya sexist dan patriarkhis. Masalah kekerasan perempuan. Masalah kematian perempuan ketika minimnya layanan kesehatan ketika melahirkan. Masalah pernikahan anak di bawah umur. Masalah ketidaksetaraan dalam ranah pekerjaan publik bagi perempuan. Sudah jelas, isu perempuan tidak sedikit tetapi yang peduli masih sedikit.

Belum lagi poster-poster yang kreatif dan inspiratif yang dibawa rekan-rekan feminist semakin mendukung pencerahan ulang saya. Melihat dan membaca poster-poster itu membuat saya merasa sepenanggungan, sepikiran, seperasaan. Di tengah kehidupan sehari-hari yang banyak bergaul dengan orang-orang yang sangat patriarkhis dan jauh dari kelompok feminist, berada di tengah-tengah mereka saya merasa menemukan dukungan sosial (padahal, saya tak kenal mereka). Saya lega, ternyata bukan hanya saya, ternyata ada banyak, yang juga menaruh perhatian pada isu perempuan dan ketidaksetaraan gender. Melihat dan membaca tulisan dalam poster-poster itu menyadarkan saya, mencerahkan saya, bahwa isu yang terlihat sesepele apapun terkait ketidaksetaran gender tidak boleh dianggap sepele. Kenapa? Tentu, karena semuanya berakar pada penyebab yang sama : patriarkhi yang mendominasi dan mengopresi.

Dalam kehidupan sehari-hari di sekitaran saya selama ini, saya melihat tidak banyak yang mau berdiri untuk perempuan. Akibat patriarkhi yang diterima tanpa dikritisi sama sekali, para perempuan di sekitar saya juga merasa isu-isu perempuan yang diangkat kaum feminist terlalu mengada-ada dan dibesar-besarkan. Mereka merasa isu-isu perempuan itu sebenarnya bukanlah masalah. Mereka merasa tidak ada yang salah dengan patriarkhi. Namun, dalam Women’s March Jakarta 2017, saya melihat ternyata ada ratusan orang (sekitar 700-an orang lebih, menurut orator) yang ikut berdiri bersama bagi isu perempuan. Dan, itu tidak hanya para perempuan. Bahkan, banyak juga para laki-laki yang mau berdiri bagi perempuan! (Ketika ada para perempuan yang bahkan tidak mau berdiri bagi sesama kaum perempuan yang teropresi, akibat dibutakan tipu-daya patriarkhi). Saya merasa cerah. Cerah melihat masa depan kaum perempuan dan cerah melihat peradaban dunia yang lebih setara.

Hari itu hari Sabtu, 4 Maret 2017. Saya ikut berdiri dengan baju pink dan sebuah poster di tangan tentang pernikahan anak dari Koalisi Perempuan. Hari itu cerah, seperti ikut mendukung pencerahan yang kembali datang kepada saya. Perempuan bersatu, tidak bisa dikalahkan. Perempuan bergerak, tidak bisa dihentikan. Perempuan dan laki-laki bersatu, bersama wujudkan kesetaraan.