Not Taken For Granted : Menjadi Ibu Tidaklah Mudah

Sebelum tulisan ini saya tuliskan, saya ingin menjelaskan satu titik pijak penting dari tulisan saya. Tulisan ini tidaklah dimaksudkan untuk semacam “menghasut” perempuan untuk tidak menjadi ibu. Tulisan ini ditulis justru agar setiap perempuan lebih menyerap pemaknaan dalam peran menjadi seorang ibu – dan terlebih lagi, untuk para laki-laki, agar dapat lebih menghargai perempuan yang memainkan peran sebagai seorang ibu. Terkhusus terhadap para perempuan yang memiliki relasi personal dalam hidupnya, baik yang melahirkan dan membesarkannya, maupun yang melahirkan dan membesarkan anaknya kemudian.

 

Berawal Dari Kegelisahan

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Kegelisahan saya muncul ketika saya berbincang dengan seorang teman dekat saya mengenai realita perselingkuhan. Kegelisahan saya juga muncul ketika saya membaca tulisan-tulisan atau menyimak film, fiksi dan non-fiksi, yang sedikit-banyak menggambarkan realita perselingkuhan di dalam rumah tangga. Bagaimana publik, secara sadar dan tidak sadar, memiliki tendensi untuk menganggap “wajar” perselingkuhan yang terjadi dari para laki-laki – para suami, para bapak. Bahkan, para perempuan lainnya, para istri mereka, bisa jadi ikut berpikir demikian : “Tak apalah mereka selingkuh, asal tidak di depan mataku. Asal aku tak tahu!” (Mohon dipahami bahwa dalam hal ini saya tidak ingin mengeneralisasi bahwa semua istri berpikir demikian atau semua suami dan para lelaki pasti punya tendensi selingkuh atau menganggap perselingkuhan adalah wajar). Saya berbicara mengenai sebagian, sebagian yang sepertinya juga cukup banyak, sehingga perlu dibahas dalam tulisan ini.

Saya gelisah. Gelisah ketika dasar dari semua tendensi pandangan ini adalah keyakinan bahwa lelaki katanya lebih membutuhkan seksualitas daripada perempuan, mereka katanya cenderung berpikir sensual dan karena itu butuh melampiaskannya. Jadi, bagi mereka yang berkeyakinan demikian, selingkuh adalah hal yang wajar. Ketika istri di rumah tidak lagi berbadan seksi dan merangsang hasrat seksualitas – yang berujung pada kekurangnikmatan orgasme yang dialami sementara kebutuhan seksualitas para lelaki diyakini tinggi – “jajan” sesekali di luar tidak apalah. Asal jajanan tidak dibawa pulang.

 

Ibu & Tubuh Perempuan Yang Berubah

Kita memang harus mengakui bahwa tubuh perempuan bisa berubah. Wajar jika tubuh istri saat ini, setelah sepuluh atau dua puluh tahun pernikahan, tidak lagi seseksi ketika baru kenal dan baru menikah dulu. Namun, banyak faktor yang menyebabkan tubuh perempuan berubah. Dua penyebab yang sering dialami banyak perempuan yang saya dengar adalah tugas (biologis) para istri untuk melahirkan dan efek jenis KB tertentu. Tubuh perempuan, meski tak semua, dianggap menjadi melar, menjadi gemuk, menjadi tidak menarik. Lalu, jika sudah tidak menarik, suami boleh mencari pengganti yang lebih menarik di luar sana? Tidakkah para lelaki pernah berpikir bahwa perempuan tak ada bedanya untuk kebutuhan seksualitas, jika dibandingkan dengan mereka? Bahwa mereka juga memiliki hasrat yang bisa jadi tidak bisa dipuaskan oleh para suami – yang tubuhnya juga pasti berubah, tidak lagi seperti saat baru menikah dulu? Jika ketidakmenarikan tubuh pasangan bisa dijadikan dasar alasan untuk perselingkuhan – dan para perempuan semuanya pun mengikuti keyakinan ini – bisa dibayangkan berapa rumah tangga akan carut-marut karena masalah perselingkuhan.

Jika kemenarikan tubuh pasangan dianggap seesensial itu dan kebutuhan seksualitas menjadi sesuatu yang harus selalu dituruti dan dipuaskan dengan maksimal (termasuk lewat jajan dan perselingkuhan), saya jadi mempertanyakan apa gunanaya pernikahan? Dan rumah tangga? Bagaimana cara kita memandang komitmen (dan batas-batas yang tercipta akibat komitmen) saat ini?

Kembali pada perubahan tubuh perempuan – yang adalah wajar dan pasti terjadi seiring usia, sebagaimana juga dialami oleh laki-laki. Sangat tidak adil jika laki-laki ingin jajan atau ingin selingkuh karena melihat tubuh istrinya tak lagi seseksi dulu, apalagi karena dampak melahirkan dan jenis KB yang dikonsumsi. Dalam hal ini, memang perempuan dapat melakukan upaya-upaya tertentu untuk “tetap menjaga bentuk tubuhnya” setelah melahirkan. Senam kegel, salah satunya. Tapi saya kira, kita butuh mempertanyakan lagi, apakah suami hanya ingin menerima istri bertubuh seksi dan tidak lagi bisa menerima istrinya ketika tubuh itu berubah akibat melahirkan (atau KB untuk mencegah kehamilan)?

 

Proses Reproduksi Bagian Perempuan: Bukan Tugas Mudah

Melahirkan itu bukan tugas yang gampang bagi seorang perempuan. Saya kira, tak semua perempuan dan tak semua laki-laki benar-benar menghayati tugas penting ini. Saya kira, tak sedikit para laki-laki yang menganggap tugas biologis ini taken for granted. Semacam, ya itu sudah kodratnya perempuan. Ya, perempuan memang harus melahirkan. Ya, itu sudah tugas perempuan. Beberapa dari kita mungkin tidak pernah benar-benar merenungi betapa beratnya tugas melahirkan. Bahkan tidak hanya melahirkan, tetapi juga keseluruhan proses reproduksi biologis bagian perempuan itu : mengandung, menyusui, termasuk menstruasi.

Menjadi ibu tidaklah mudah. Menjadi perempuan yang kemudian menjadi seorang ibu yang memerankan tugas biologis ini tidaklah mudah. Mengandung selama sembilan bulan (atau kurang) tidaklah mudah. Mengalami mual dan muntah dan tidak selera makan bukanlah hal mudah. Harus menjaga apa yang dilakukan, termasuk makanan dan minuman, selama mengandung agar tidak berdampak pada kandungan bukanlah hal yang mudah. Harus mengalami kontraksi menjelang kelahiran bayi bukanlah hal mudah. Mengalami vagina yang sobek atau bawah perut yang harus disilet pisau operasi ketika melahirkan tidaklah mudah. Kadang sampai bertaruh nyawa, tentu tidak mudah. Menjalani masa pemulihan pasca melahirkan kemudian tidak mudah. Menyusui bayi bukan hal mudah, khususnya jika sang ibu mengalami kekurangan ASI atau malah kelebihan ASI. Mengurus anak, entah dilakukan sendiri oleh para ibu rumah tangga maupun dilakukan para ibu yang bekerja di ranah publik dengan bantuan nanny-dan-babysitter, tidaklah mudah. Belum lagi, menstruasi yang merupakan proses peluruhan dinding rahim yang terjadi setiap bulannya, dengan intensitas sakitnya masing-masing di setiap perempuan. Semuanya butuh usaha, butuh kekuatan untuk menjalaninya. Tak heran, tak sedikit para ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression lainnya, karena proses ini tidak bisa dibilang gampang.

Saya mengatakan tidak mudah, bukan berarti tidak bisa dinikmati atau selalu membebani. Saya percaya, bahwa ada anugerah tersendiri, yang hanya dapat dialami perempuan dalam tugas biologis ini. Ada hal-hal yang hanya dapat diresap oleh perempuan karena pengalaman menjadi seorang ibu. Karena itu, para perempuan butuh lebih memikirkan peran biologis ini. Para perempuan perlu menyadari bahwa ini tugas penting, benar-benar tidak sepele, dan merupakan salah satu tugas istimewa yang hanya para perempuanlah yang bisa melakukannya. Tak ada laki-laki yang bisa melahirkan, hanya perempuan. Ini fakta penting.

Dalam tugas reproduksi biologis ini, para perempuan memberikan dirinya, tubuhnya, untuk ikut menciptakan kehidupan yang baru. Ia memberikan rahimnya untuk mengandung, ia memberikan payudaranya untuk menyusui, ia memberikan dirinya untuk mengurus dan membesarkan seorang manusia baru. Tugas menjadi ibu ini membutuhkan pengorbanan, ketulusan, kesungguhan para perempuan. Ia tidak lagi boleh egois, karena sekarang ia memiliki tanggung jawab atas seorang manusia baru, yang masih kecil, yang bergantung sepenuhnya pada perhatian dan pengasuhannya (dalam hal ini saya menitikberatkan dalam hal biologis dan tidak berpikir ayah tak mengambil peran dalam pengasuhan). Karena itupula, bagi saya, tugas ini menjadi sangat terpuji (mohon dipahami bahwa ini tidak berarti bahwa saya menganggap para perempuan yang tidak melahirkan tidak terpuji – saya masih berkeyakinan bahwa perempuan juga memiliki hak untuk melahirkan dan juga untuk tidak melahirkan).

 

Tugas Reproduksi Bagian Perempuan Perlu Diapresiasi Laki-Laki

Para laki-laki pun butuh menyadari dan menghayati peran biologis perempuan yang tidak mudah ini. Para perempuan, para istri, melahirkan anak-anak yang juga adalah anak mereka. Anak itu tetap menjadi anak bersama, anak pasangan suami dan istri tersebut (bukan hanya anak istrinya, “anak ibu”). Keputusan untuk reproduksi (seharusnya) adalah keputusan bersama antara suami dan istri. Hubungan seksual dan proses pembuahan, misalnya, tak bisa dilakukan perempuan sendirian. Para lelaki mengambil peran pula dalam hal ini dan mereka seharusnya menghargai perempuan yang kemudian melanjutkan tugas biologis itu sendirian (dalam mengandung, melahirkan, sampai menyusui). Betapa sedihnya ketika kemudian lelaki menyalahkan (tubuh) istrinya yang menjadi melar dan tidak menarik akibat proses reproduksi biologis ini. Nyatanya, para lelaki juga membutuhkan proses reproduksi tersebut untuk melanjutkan keturunan (khususnya mereka dari budaya patriarkhi). Nyatanya, para lelaki pun lahir dari proses reproduksi yang harus banyak diperankan perempuan tersebut. Tidak ada laki-laki yang tidak lahir dari rahim perempuan (kecuali Adam, dalam beberapa kepercayaan).

Dalam hal masalah kebutuhan seksual, dalam keyakinan bahwa para perempuan juga memiliki kebutuhan seksual yang sama besarnya dengan laki-laki, saya kira seharusnya dapat lebih fleksibel dibicarakan dengan pasangan dalam konteks pernikahan. Saling mengutamakan yang lain dan tidak mencari kepuasan sendiri – rela saling mengupayakan yang terbaik untuk kepuasan yang lain. Misalkan mengenai perawatan tubuh perempuan setelah melahirkan. Saya tidak menganggap itu salah, jika tidak dilakukan dalam konteks hierarkis. Dalam arti bukan hanya semata-mata untuk menyenangkan suami, tanpa suami peduli kebutuhan dan kepuasan seksual istri. Bagaimanapun, para suami memiliki tugas yang sama dengan para istri, untuk menjamin kepuasan seksual pasangannya dalam pernikahan. Mereka perlu bertanya preferensi pribadi sang istri dalam hal seksual dan jika itu terkait dengan tubuh laki-laki, upayakan juga hal itu sebagaimana istri mengupayakan hal sama untuk suami. Setara dalam hal seksual, menurut saya, sangat penting untuk sebuah pernikahan.

Akhirnya, menutup tulisan ini, saya amat sadar bahwa saya belum mengalami semua ini secara personally. Saya memang belum menikah, belum pernah mengandung-melahirkan-atau-menyusui (tapi selalu mengalami menstruasi setiap bulan yang kadang menyakitkan) – tetapi saya ingin speak up melalui tulisan ini. Tulisan ini lahir dari kegelisahan, dari pengalaman yang dialami para perempuan di sekeliling saya, yang tentu tidak bisa saya acuhkan begitu saja. Sekali lagi, saya percaya bahwa menjadi ibu adalah sebuah tugas yang tidak mudah tetapi tetap istimewa bagi para perempuan (mohon diingat bahwa saya membicarakan hal ini di luar konteks kehamilan akibat keterpaksaan atau pemerkosaan, saya kira konteks ini harus dibahas dalam tulisan dan cara pandang yang berbeda lagi, karena telah terkait masalah power inequality antar jenis kelamin). Saya berharap para lelaki ingat, bahwa ternyata, tidaklah mudah mengemban tugas reproduksi biologis ini. Ya, tidak mudah untuk menjadi seorang ibu. Saya berharap semakin banyak laki-laki yang dapat mengapresiasi, menghargai, tugas biologis perempuan ini. Salah satunya, adalah dengan tidak menjadikan dampak tugas reproduksi biologis pada tubuh perempuan sebagai alasan perselingkuhan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s