Masalah Pada Terlalu Kaku

Masalahnya bukan pada pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Selama tidak melahirkan social inequality dan berfokus pada upaya saling melengkapi, pembagian peran itu baik adanya. Masalahnya bukan pada pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Masalahnya pada perihal “terlalu kaku”. Terlalu kaku sehingga melupakan konteks-konteks kondisi zaman, kondisi khusus, yang tidak ideal yang mungkin terjadi kemudian. Terlalu kaku menciptakan masalah baru.

Seorang teman saya pernah bercerita. Di rumahnya, pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki sangat tegas. Masalah cuci-masak-dan-bersih-bersih adalah urusan perempuan. Masalah mencari nafkah dan perihal memperbaiki itu-dan-ini adalah urusan laki-laki. Laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan perempuan. Misalnya, sang ayah tidak akan pernah menyentuh urusan cuci-mencuci atau masak-memasak seumur hidupnya. Sebaliknya, perempuan juga tidak seharusnya mengerjakan pekerjaan laki-laki. Misalnya, ibunya yang harus menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, tidak boleh bekerja di luar rumah karena itu pekerjaan laki-laki.

Sejauh ini, cerita teman saya, semuanya terkendali. Kondisi ideal. Tidak ada kondisi khusus yang menyebabkan pengerjaan peran masing-masing terganggu. Namun, jika muncul kondisi tidak ideal? Nyatanya, banyak kondisi tidak ideal terjadi dan dialami banyak perempuan, juga laki-laki.

Perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah karena seharusnya perempuan total mengurusi masalah domestik keluarga dan rumah tangga. Lalu, bagaimana dengan para perempuan yang ditinggal mati atau ditinggal pergi suami (tanpa pernah kembali lagi) dan harus bertanggung-jawab terhadap anaknya sendiri? Apakah para perempuan ini tidak boleh bekerja juga? Apakah para perempuan ini harus berkutat pada urusan domestik dan  tidak boleh menjamah ranah publik, lalu bagaimana urusan biaya keberlangsungan hidup anak dan keluarga tanpa suami? Apakah para perempuan ini harus menikah lagi hanya karena tidak boleh bekerja di ranah publik?

Laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga, karena itu bagian perempuan. Laki-laki tidak boleh dan tidak perlu mencuci, memasak, bersih-bersih. Lalu, bagaimana jika laki-laki ditinggal mati (atau ditinggal pergi, meski kasusnya mungkin lebih jarang) oleh istri? Apakah laki-laki akan menikah lagi hanya karena tidak boleh mencuci, memasak, dan bersih-bersih? Apakah laki-laki harus menikah lagi hanya karena tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga yang seharusnya diperankan oleh istrinya?

Atau, mungkin, tidak ada cerita ditinggal pergi atau ditinggal mati istri atau suami – tapi tetap saja ada kondisi-kondisi khusus, seperti ketika salah satu sakit. Apakah karena laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik keluarga, maka laki-laki tidak boleh menggantikan tugas istrinya untuk bersih-bersih ketika istrinya sakit atau baru melahirkan? Apakah karena perempuan tidak boleh mengerjakan pekerjaan publik yang dianggap menjadi tugas laki-laki, maka perempuan tidak boleh menggantikan tugas suaminya untuk mencari nafkah meskipun suaminya kemudian menderita sakit parah yang menyebabkan ketidakmampuan mencari nafkah sama sekali? Beberapa kenalan saya, perempuan dan laki-laki, mengalami kondisi-kondisi seperti ini. Mereka jadi tahu untuk adaptif dan fleksibel terhadap perubahan kondisi yang terjadi.

Saya jadi ingat label pekerjaan perempuan yang disebut dapur-sumur-kasur. Masalah terlalu kaku yang berasal-dan-dipadankan dengan sistem patriarkhi yang mengopresi melahirkan istilah ini. Cap-cap “ini pekerjaan perempuan” – seperti pekerjaan-pekerjaan domestik – membuatnya menjadi pekerjaan kelas dua. Pekerjaan domestik derajatnya berada di bawah pekerjaan publik. Masalah pada terlalu kaku pun bertambah semakin kaku. Di bawah doktrin patriarkhi, sudah wajar, laki-laki tidak akan ingin mengerjakan pekerjaan perempuan yang dianggap pekerjaan kelas dua. Masalahnya sudah semrawut, menyoal pride dan harga diri laki-laki. Begitupun, para perempuan juga merasa sama. Perempuan jadi lebih senang dengan pekerjaan publik daripada domestik (harus diakui, saya tak terkecuali, oh dampak opresi patriarkhi). Siapa sih yang mau mengerjakan pekerjaan kelas dua jika ada pilihan pekerjaan kelas satu? Itu logikanya saja.

Saya tahu, bahwa tak semua mengalami “kekakuan yang terlalu” ini. Sekarang, banyak laki-laki yang meski tidak berprofesi sebagai seorang chef, mahir memasak (bahkan lebih mahir dari istrinya). Banyak perempuan yang sudah berkarir bagus. Banyak juga laki-laki yang tidak keberatan membantu istrinya bersih-bersih rumah, atau perempuan yang tidak keberatan bekerja demi membantu suami menanggung perekonomian keluarga. Namun, saya ingin sekedar mengingatkan, bahwa tak semua juga tidak mengalami “kekakuan yang terlalu” ini. Khususnya, untuk konteks keluarga-keluarga dari budaya patriarkhial. Contohnya, teman saya tadi. Karena itulah, saya menulis tulisan ini.

Masalahnya jelas ada pada terlalu kaku. Kita tidak adaptif, tidak menyesuaikan diri dengan kondisi dan zaman yang berubah pasti. Kita tidak saling memahami. Tidak saling mengerti. Kita terlalu berorientasi (mengkotak-kotakkan diri) kepada peran, bukan tujuan. Mengapa kita tidak saling membantu dan saling menolong agar peran masing-masing dapat tuntas diselesaikan demi mencapai tujuan (bersama)? Mengapa kita terlalu sibuk dan ego mengurusi peran sendiri dan tidak mau diributi dengan peran yang lain? Misalkan, jika itu rumah tangga, mengapa suami dan istri tidak saling menolong peran tanpa menjadi terlalu kaku agar tujuan kesejahteraan keluarga tak terabaikan?

Dalam kekakuan kita, dalam ke-patriarkhi-an kita, kita juga melabel dan memberi kelas-tingkatan pada peran-peran. Ada kelas satu dan ada kelas dua. Ada yang mulia dan ada yang hina. Mengapa tidak melihat semua peran itu baik adanya dan signifikan untuk dilakukan demi mencapai tujuan? Bahwa tujuan tidak akan tercapai jika satu peran saja hilang dan luput dilakukan?

Dalam sebuah diskusi di chat room dengan seorang teman laki-laki yang menganut patriarkhi, saya juga pernah mendengar argumentasi ini. Cerita masalah pada “terlalu kaku” yang lain lagi. Sebagaimana kita tahu, patriarkhi menempatkan perempuan di kelas dua, di bawah laki-laki. Laki-laki yang harus jadi pemimpin, yang harus memimpin perempuan. Lalu teman saya yang menganut patriarkhi berkeyakinan, berargumentasi, “Itu mengapa seharusnya perempuan tidak menjadi pemimpin dimanapun – bukan hanya dalam keluarga, tapi di kantor juga. Karena, peran memimpin itu adalah peran laki-laki, bukan peran perempuan.”

Pertanyaan saya meluap kemudian : apakah karena keyakinan bahwa laki-laki berperan sebagai pemimpin, perempuan tidak boleh memimpin meskipun laki-laki yang ada tidak berkapasitas dan tidak berkapabilitas untuk memimpin? Sebutlah, dalam konteks kompetisi kantor atau akademisi. Perempuan tidak boleh jadi manager, supervisor, direktur. Perempuan tidak boleh jadi ketua kelas, ketua kelompok, ketua OSIS atau ketua BEM. Sungguh? Harus sekaku itu? Sekalipun kapasitas dan kapabilitas perempuan tersebut jauh di atas kapasitas dan kapabilitas laki-laki yang ada di tempat itu? Sangat disayangkan.

Jujur saja, bahkan di sekeliling saya saat ini, saya cukup banyak melihat para perempuan berkapasitas-berkapabilitas di atas rata-rata dan para laki-laki yang belum bisa sebaik mereka (maaf, tanpa mendiskreditkan seluruh kaum laki-laki – tentu saja masih ada laki-laki yang berkapasitas dan berkapabilitas untuk memimpin dan telah menjadi pemimpin di sekitar saya – lagi-lagi, saya berbicara konteks spesifik, bukan generalisasi). Kekakuan yang didikte patriarkhi ini yang kemudian menjadi pembenaran terhadap social inequality, misalnya, perempuan tidak perlu sekolah, tidak perlu belajar karena hanya akan mengurusi rumah tangga di rumah dan tidak boleh jadi pemimpin pun di ranah publik. Pembenaran untuk menjaga perempuan “tetap di bawah” laki-laki, dalam opresi dan kebodohan tersistemisasi. Padahal, jika perempuan memiliki banyak kapasitas dan kapablitas lebih, bukannya ia juga dapat lebih banyak menolong suaminya nanti seandainya ia menikah?

Saya percaya, terlalu kaku menciptakan masalah baru. Bayangkan saja, jika yang tidak berkapabilitas harus memimpin atau jika yang sedang tidak berdaya harus mati-matian tetap mengerjakan peran yang ditetapkan menjadi tugas tanpa ada yang membantu sama sekali. Belum lagi social inequality tersistemisasi yang sudah saya sebut di atas tadi.

Dalam hal ini, kekakuan bukanlah jawaban apalagi solusi. Orientasi kepada tujuan bersama dan upaya masing-masing untuk mengerjakan peran dan saling membantu peran adalah kuncinya. Saling melengkapi tanpa menjadi terlalu kaku. Jadi, pembagian peran antara perempuan dan laki-laki itu baik. Menurut saya, menjadi terlalu kaku adalah masalah yang sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s