Melangkahi Kodrat Sebagai Wanita

Melangkahi kodrat sebagai wanita. Kata-kata ini saya baca baru-baru ini, ketika saya iseng berselancar di salah satu media sosial. Ceritanya, seorang teman saya yang berpandangan feminis mencoba berbagi pemikirannya, dan seorang teman lain kemudian mengomentari. Teman saya yang berpandangan feminis hanya singkat bertanya, setelah membaca beberapa buku Ayu Utami – bertanya tentang prosesi adat pernikahan dari salah satu suku : pengantin wanita akan mencium tangan pengantin pria dan membasuh kaki pengantin pria – tetapi mengapa tidak sebaliknya? Disanalah kata-kata melangkahi kodrat sebagai wanita ini muncul, dari komentar teman yang satunya. Mengggugah saya untuk bertanya, berpikir, dan menulis tulisan ini.

Sebelum menulis disini, saya banyak jalan-jalan dulu di google. Saya ingin tahu pandangan, tulisan, orang-orang mengenai melangkahi kodrat sebagai wanita ini. Kebanyakan ditulis dari sudut pandang salah satu agama, atau ditulis sekedar dengan berdasar keinginan untuk menulis. Tidak salah sih, tapi setelah membaca tulisan-tulisan itu, saya paham bahwa mereka sama sekali belum mengerti mengenai studi gender (yang sebenarnya sudah diperhatikan dan dipertimbangkan dalam ranah sosial di dunia internasional) sebelum membahas soal melangkahi kodrat perempuan atau feminisme. Tulisan-tulisan tersebut sungguh dapat diperdebatkan, tapi lagi-lagi sebagaimana saya berhak menulis yang saya pikir-dan-rasakan di halaman ini, mereka juga berhak menulis yang mereka pikir-dan-rasakan di halaman blog mereka.

Nah kodrat itu sebenarnya apa? Tentu kita harus memahami dengan benar dulu arti kata kodrat sebelum merasa bebas menggunakannya. Jangan sampai ternyata kita salah menggunakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kodrat berarti (1) kekuasan (Tuhan): contohnya, manusia tidak mampu menentang kodrat atas dirinya sebagai makhluk hidup; (2) hukum (alam): contohnya, benih itu tumbuh menurut kodratnya; (3) sifat asli, sifat bawaan: contohnya, kita harus bersikap dan bertindak sesuai dengan kodrat kita masing-masing.

Jadi, setidaknya ada tiga defenisi untuk menjelaskan kata kodrat. Pertama, kekuasan Tuhan. Kedua, hukum alam. Ketiga, sifat asli atau sifat bawaan. Beracuan pada defenisi pertama ini tentang kekuasaan Tuhan, dalam pemikiran kritis, saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan atau mendebat pandangan-pandangan melangkahi kodrat sebagai perempuan yang dilihat dengan pijakan nilai-nilai agama atau kitab suci tertentu. Ranah ini sudah berbeda. Mendefenisikan lagi batas-batas kekuasaan Tuhan juga sudah sangat abstrak sekaligus luas. Saya pikir kitab suci juga dapat diinterpretasi dan ditafsir macam-macam oleh berbagai orang mengenai kekuasaan Tuhan. Saya tidak ingin banyak berkomentar mengenai hal-hal agamis disini, saya hanya berharap tafsiran agama yang dipakai tidak salah dan dapat dipertanggungjawabkan jika menyinggung tentang melangkahi kodrat sebagai perempuan. Ya, itu kepercayaan masing-masing. Yang jelas, tidak semua agama atau kepercayaan di dunia melihat perempuan sebagai subordinat laki-laki. Lagi-lagi tergantung agama apa, sangat relatif.

Namun jika bertitik-tolak dari defenisi nomor dua dan nomor tiga, mengenai hukum alam dan sifat asli atau sifat bawaan, pembahasannya berbeda lagi. Nah, saya lebih tertarik dan lebih ingin fokus kepada dua defenisi ini saja.

Hukum alam atau sifat asli dapat merujuk kepada sesuatu yang sifatnya biologis. Misalkan, hewan-hewan seperti macan, harimau, dan singa, sebagai hewan karnivora akan memakan hewan-hewan herbivora. Atau, perihal menstruasi dan melahirkan yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan dan bukan laki-laki. Ini kodrat. Tidak bisa ditentang, karena tidak ada pilihan alternatif lain selain hal kodrati ini. Karena, hal kodrati tidak bisa diubah, dan yang membuatnya tidak bisa diubah adalah faktor mutlak biologis.

Apa hewan karnivora seperti macan bisa diberi makan roti atau daun-daunan? Apa laki-laki bisa menstruasi dan melahirkan? Tidak. Tidak ada pilihan. Itulah kodrat, hukum alam, sifat bawaan. Tapi mengenai perempuan mencium tangan laki-laki atau laki-laki menjadi kepala rumah tangga? Apa tidak bisa laki-laki mencium tangan perempuan atau perempuan menjadi kepala rumah tangga?

Bisa. Yang membuatnya seakan-akan tidak bisa diubah atau sepertinya tidak mungkin diubah adalah norma-norma sosial masyarakat tertentu yang dianut yang berkajang pada patriarkhi dan telah mendikte ini-dan-itu mengenai perempuan dan laki-laki. Tapi itu konstruksi sosial, bukan faktor mutlak biologis kan? Hei, norma sosial masyarakat bisa berubah, bisa bergeser, bisa hilang-lenyap bahkan. Sosiologi mengatakan demikian, perubahan sosial dapat terjadi.

Sebagai catatan penting, norma sosial juga cenderung berbeda-beda di setiap masyarakat yang berbeda. Misalnya, dalam adat Suku Batak atau Jawa di Indonesia, memang menganut patrineal dan patriarkhi – dimana laki-laki adalah kepala rumah tangga dan garis keturunan mengikut nama laki-laki. Namun, tahu gak ada Suku The Mosuo di China dan The Aka di Central African Republic & Republic Democratic of Congo yang menganut norma bahwa perempuan adalah kepala rumah tangga dan garis keturunan akan ikut garis perempuan? Rasanya kita perlu mencoba melihat dunia lebih luas, di luar kebudayaan kita. Ternyata ada tuh masyarakat yang justru matriarkhi dan matrineal. Nah untuk mereka, apa kita bisa bilang, dengan menganut matriarkhi-matrineal mereka sudah melangkahi kodrat sebagai wanita? Relatif, dong. Relatif banget.

Karena itu, saya pikir, kita perlu kembali me-redefenisi arti kalimat melangkahi kodrat sebagai wanita. Bahkan jika perlu, meninggalkan penggunaan kata-kata ini. Saya pikir, kata-kata ini hanya cenderung menghakimi. Apalagi, dengan pemakaian yang salah, kita cenderung menjadi sangat subjektif dalam penilaian kita terhadap yang mana kodrat yang mana bukan kodrat. Apalagi, kata-kata melangkahi kodrat ini lebih banyak dimaksudkan untuk menghajar para perempuan yang dianggap sudah menyalahi kodrat. Lah, lalu laki-laki? Tidak ada laki-laki yang menyalahi kodrat?

Coba cari di-google, coba ketik melangkahi kodrat sebagai laki-laki. Yang akan kamu temukan, malah sebaliknya: artikel-artikel yang lebih banyak menyoal soal kodrat perempuan, bukan laki-laki. Bagi saya, ini sudah pertanda ketimpangan gender yang terjadi : masalah melangkahi kodrat hanya berat dibahas-ditujukan kepada kaum perempuan. Kaum laki-laki tak banyak disinggung mengenai melangkahi kodrat. Saya berpikir, jangan-jangan wacana melangkahi kodrat sebagai wanita ini disebut-sebut sebenarnya hanya sebagai bentuk kontrol yang lain terhadap (konstruksi) keperempuanan perempuan? Sedih sekali.

Lagipula, bahkan, menurut saya, hal-hal yang tampaknya kodrati pun harus kritis dibahas lagi dalam realisasinya. Misalkan, sudah kodratnya perempuan melahirkan. Lalu, jika perempuan tidak melahirkan, apakah kita bisa seenak jidat mengatakan perempuan tersebut melangkahi kodratnya sebagai perempuan karena tidak melahirkan? Padahal, alasan yang melatar-belakangi bisa beragam : dari masalah biologis seperti masalah pada sperma pasangannya atau pada rahimnya, sampai pilihan perempuan yang mungkin belum siap menjadi orang tua. Ya, saya pikir, pilihan melahirkan tidak melahirkan itu juga hak perempuan. Memangnya mudah menjadi orang tua yang bertanggung-jawab penuh atas generasi yang dilahirkannya? Karena itu, rasanya mengucapkan melangkahi kodrat sebagai wanita itu kepada perempuan sebenarnya tak lebih dari tindakan penghakiman dan cibiran semata, sangat subjektif dan bias sekali.

Saya berharap, kata-kata seperti ini, kata-kata melangkahi kodrat sebagai wanita tidak akan pernah saya dengar atau saya baca lagi. Dimanapun, ditujukan untuk siapapun. Bisakah saya berharap untuk yang satu ini?

p.s. :

Ada satu tulisan dari penulis lain yang sangat saya rekomendasikan dibaca setelah membaca tulisan ini. Tulisannya menyoal tentang melangkahi kodrat sebagai wanita juga. Uniknya, tulisan ini ditulis oleh seorang laki-laki. Dari tulisannya, kiranya lebih banyak yang mengerti bagaimana membedakan kodrat dan konstruksi (sosial). Mempertanyakan Kodrat Laki-Laki dan Perempuan, oleh Syaldi Syahude.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s