Tidak Semua Laki-Laki

Suatu kali saya terlibat sebuah pembicaraan seru dengan rekan-rekan kerja saya di lapangan. Semuanya laki-laki, terkecuali saya. Kali ini tentang kegiatan senam pagi ibu-ibu di wilayah kompleks mereka tinggal. Pembicaraan ini menarik. Kenapa? Karena mengingatkan saya, bahwa tak semua laki-laki juga setuju dengan sexist social label yang digeneralisasikan kepada mereka.

Siapa yang bilang bahwa laki-laki selalu akan berpikiran sensual dan seksual, khususnya dalam kondisi yang dianggap memancing hasrat seksual (misalnya seperti melihat ibu-ibu senam pagi di luar rumah)? Hei. Jangan digeneralisasi. Tak semua laki-laki.

Ceritanya, para rekan kerja saya yang semuanya adalah ayah berusia 30-an dengan satu anak ini merasa kesal dengan peraturan di daerah tempat tinggal mereka yang tidak memperbolehkan ibu-ibu senam pagi di luar rumah—di tempat terbuka. Bukannya mereka kesal karena mereka kepingin atau senang melihat ibu-ibu senam pagi dan peraturan itu menghalangi mereka lho. Mereka kesal justru karena generalisasi yang dijadikan alasan pelarangan: bahwa ibu-ibu yang senam pagi di luar rumah itu akan mengundang perselingkuhan para bapak-bapak di daerah tersebut. Menarik.

Memang sudah pernah ada satu kasus perselingkuhan yang terjadi—yang sebenarnya belum terbukti apakah perselingkuhan itu terjadi akibat senam pagi ibu-ibu di luar rumah atau tidak. Yang tentu saja tidak bisa juga serta-merta dijadikan pembenaran terhadap pelarangan ini. Peraturan itu juga diciptakan oleh bapak-bapak lainnya, dalam arti, sesama lelaki menuduh lelaki lainnya, dengan generalisasi yang sexist sekali. Aduh.

Rekan-rekan kerja saya merasa peraturan (atau larangan) dengan alasan generalisasi sexist itu semacam penghinaan. Mereka tidak terima bahwa semua laki-laki disama-ratakan punya kecenderungan selingkuh hanya dengan melihat perempuan senam pagi di tempat terbuka—dengan jenis pakaian apapun (ibu-ibu yang senam pagi di kompleks mereka, semuanya memakai hijab dan celana-baju berlengan panjang). Saya tak banyak berkomentar saat itu, hanya mendengar dan senyum-senyum sendiri. Saya senang mendengar bahwa mereka kesal karena generalisasi sexist semacam itu. Berarti, tak semua laki-laki bisa disamakan. Berarti, masih ada harapan.

Pembicaraan teman saya yang tampaknya sepele – tetapi ternyata mengandung refleksi penting – ini membuat saya ingin mengingatkan bahwa generalisasi sexist merupakan salah satu hal kejam yang bisa di-paksa-kenakan oleh laki-laki kepada perempuan, maupun perempuan kepada laki-laki – bahkan oleh sesama laki-laki atau sesama perempuan. Entah maksudnya bercanda atau serius, generalisasi sexist tidak seharusnya existed. Bukan karena ada yang seperti itu atau banyak yang seperti itu—kita lalu melabel semuanya dengan kata selalu begitu.

Para perempuan juga memiliki kemungkinan untuk “menghakimi” para laki-laki dengan generalisasi ini. Harus diakui, banyak juga perempuan para korban patriarkhi dan mereka yang kemudian mendukung gerakan bela perempuan, menjadi semacam anti laki-laki. Menganggap laki-laki selalu begini dan begitu—disesuaikan dengan pengalaman masing-masing. Padahal, tak semua laki-laki seperti itu. Itu hanya sebagian laki-laki.

Kerentanan ini dapat menyebabkan kaum perempuan yang menjadi misandry dan anti laki-laki salah memahami dan mengejar tujuan feminisme. Feminisme jelas mengejar equality, kesetaraan, bukan perempuan di atas laki-laki. Bukan perempuan menjadi pusat dan penguasa segala—tetapi perempuan bersama laki-laki. Bersama-sama, dalam kesetaraan. Feminisme memang mengambil sikap untuk anti-patriarchy, tetapi yang harus diingat—patriarchy adalah sistem, bukan manusia laki-laki.

Nyatanya, saya menemukan tak sedikit laki-laki baru yang sudah paham mengenai isu gender dan mendukung gerakan feminisme. Bahkan, mereka juga anti-patriarchy dan mengejar equality. Mereka pun ikut berdiri bersama kaum perempuan untuk mengusahakan kesetaraan. Masa mereka ini juga mau disamakan dengan (laki-laki) yang  tidak (atau belum) seperti mereka?

Membahas hal ini, saya sangat mengapresiasi salah satu gerakan gender yang berfokus kepada laki-laki bernama Aliansi Laki-Laki Baru. Gerakan ini merupakan gerakan asuhan feminisme dan banyak mendiskusikan isu-isu maskulinitas dalam kacamata kesetaraan. Tentu laki-laki baru yang menjadi bagian gerakan ini juga tak bisa kita samakan dengan laki-laki yang tidak (atau belum) sadar gender seperti mereka ini kan?

Bagi saya, sangat unfair untuk melabel kelompok gender tertentu dengan generalisasi sexist tertentu. Dan, sangat tidak sehat. Labelling negatif terhadap para laki-laki, sebagai kaum yang selalu berpikiran sensual misalkan, justru bisa menghasilkan kondisi seperti yang dikatakan label tersebut—meski sebelumnya tidak demikian. Karena itu, bukannya lebih baik untuk kita me-label dengan hal-hal positif dibandingkan yang negatif? Sehingga yang akan lahir juga hal-hal positif.

Tidak semua laki-laki. Tidak semua.

Let’s stop generalizing and labelling. Let’s stop act like an misandry and anti-man. Instead, let’s pursue peace and equality altogether. For equality, cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s