Patriarkhi & Moment “Eureka”

Eureka adalah seruan kegembiraan untuk sebuah penemuan. Berasal dari bahasa Yunani, eureka berarti “aku telah menemukankannya.” Eureka terkenal karena andil salah satu scientist bernama Archimedes. Archimedes menyerukan “Eureka!” saat berhasil menemukan teori yang kemudian disebut dengan Hukum Archimedes. Saat itu, ia sedang mandi. Archimedes masuk ke dalam bak mandi dan menyadari bahwa permukaan air naik setelah ia masuk, sehingga ia menemukan bahwa berat air yang tumpah sama dengan gaya yang diterima oleh tubuhnya. Karena penemuan itu, ia kemudian berteriak riang-gembira, “Eureka!”.

Sebagaimana Archimedes, saya kira, setiap orang harus menemukan pengalaman “Eureka”-nya sendiri—untuk menyadari mengenai realita patriarkhi yang cenderung mengopresi. Pengalaman itu bisa lahir kapan saja, dari apa saja. Mungkin dari masa lalu dan mungkin dari masa sekarang ini, atau bisa jadi dari paduan keduanya. Yang jelas, setiap orang harus memiliki pengalaman patriarkhi yang mengopresi (baik) diri sendiri maupun diri orang lain—kemudian menyadari kesalahan patriarkhi. Bahwa, dunia akan lebih damai dengan equality dan bukan dominasi. Moment itulah yang saya sebut moment “Eureka”. Saya yakin, bahwa setiap perempuan maupun laki-laki yang telah berdiri bersama kaum perempuan, pro-feminist, sudah mengalami moment “Eureka”-nya masing-masing.

Sayangnya, memang banyak orang belum menemukan moment “Eureka”-nya. Mereka lengah dan terlena oleh sistem budaya sexist patriarkhis yang diterima secara taken for granted. Mereka sedia angguk-angguk kepala tanpa bertanya untuk ikut arus konformitas yang telah menyusun A sebagai A dan B sebagai B: yang telah mendoktrinasi bahwa perempuan wajar dan seharusnya memang ada di bawah laki-laki. Laki-laki harus memimpin (meskipun tak semua memiliki kapasitas untuk memimpin) dan perempuan harus ikut, dipimpin. Tak sadar, dampaknya bisa carut-marut sampai diskriminasi, opresi, dan marginalisasi. Bahkan, pemiskinan terhadap perempuan. Jangankan laki-laki (yang memang merupakan kelompok yang menerima keuntungan dari kekuasaan patriarkhi), perempuan saja banyak yang belum celik akan ini. Sungguh disesali.

Sayangnya, memang patriarkhi di-sistemisasi tidak hanya secara budaya, tetapi juga secara agama. Kalau sudah bicara mengenai nilai-nilai agamis, kecenderungannya orang hanya akan bilang amin. Ikut tanpa perlawanan atau pertanyaan. Tidak berani mengevaluasi, merasionalisasi (karena katanya, agama yang sifatnya spiritual memang tidak masuk akal). Disinilah hegemoni patriarkhi semakin langgeng. Apalagi jika dikaitkan dengan ketuhanan. Mendorong saya kembali mempertanyakan: Benarkah Tuhan memang mengingini sistem patriarkhi dalam segala sisi dan situasi? Bahkan jika patriarkhi lebih banyak menindas dalam realita daripada memproteksi?

Moment “Eureka” saya terjadi saat saya masih mahasiswa semester V di kampus kuning. Moment itu diawali dengan keputusan saya untuk mengambil kelas “Gender & Struktur Sosial” lalu belajar mengenal feminisme disana. Di kelas itu, terjadi re-refleksi setiap kali materi diberi : saya banyak retreat dan flashback pengalaman masa lalu, terkait patriarkhi yang kental saya alami dalam keluarga yang berlatar-belakang budaya salah satu suku paling patriarkhi di Indonesia. Pengalaman-pengalaman yang selama ini tidak saya sadari mengopresi. Di kelas itu, moment penemuan dikukuhkan dengan realita yang kemudian saya lihat banyak terjadi di sekitar dan tidak di sekitar saya: ketimpangan gender dimana-mana dan chaos merajalela di mata saya. Saat itulah, saya sadar bahwa patriarkhi begitu mendominasi. Saat itulah, saya menyadari kesetaraan gender adalah salah satu solusi. Eureka!

Saya menyadari, moment “Eureka” terkait erat dengan pengalaman dan edukasi. Pengalaman, tentu saja akan membedakan satu sama lain dalam melihat isu kesetaraan gender. Tentu akan berbeda pandangan antara perempuan yang dibesarkan dalam keluarga patriarkhi kental diskriminasi gender dengan perempuan yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dalam kesetaraan gender. Tentu akan berbeda pandangan antara laki-laki yang memiliki saudara atau keluarga yang pernah menjadi korban kekerasan seksual, dengan laki-laki yang sama sekali jauh dari isu dan pengalaman kekerasan seksual. Bahkan, tentu akan berbeda pandangan antara perempuan yang besar dalam sistem patriarkhi di daerah urban dan perempuan yang besar dalam sistem patriarkhi di daerah rural. Saya tidak bisa langsung menyimpulkan yang mana yang kemudian akan berpotensi lebih feminist dan pro-perempuan, karena pengalaman tidak berdiri sendiri dalam moment “Eureka” ini. Pengalaman terkoneksi dengan edukasi. Tanpa edukasi gender yang memadai, saya kira pengalaman pun tak bisa mengubah banyak. Kita bisa terus terbuai dan tak sadar bahwa pengalaman itu mengandung realita opresi. Kita butuh dicerahkan, dicelikkan, dibangunkan, dibangkitkan (diedukasi!) mengenai isu ketimpangan serta kesetaraan gender.

Pikiran terbuka tentu saja menjadi kuncinya. Saya pikir, seseorang bisa saja diedukasi mengenai kesetaraan gender tetapi tetap tak tercerahkan jika dari awal telah memberikan penolakan, meski terselubung. Dalam hal ini, penting untuk membayangkan standing in their shoes (kaum perempuan yang menjadi korban dari sistem patriarkhi). Coba belajar simpati dan berempati, dalam konteks kondisi yang terjadi. Juga, penting untuk menanggalkan (meski untuk sementara) segala ideologi sexist patriarkhis yang sudah dianut selama ini. Berani mempertanyakan ulang, berani bersikap kritis untuk melihat ketimpangan. Berani belajar memahami apa yang terjadi dari kacamata korban patriarkhi.

Moment “Eureka” lahir dari re-refleksi. Dari pengalaman dan pengetahuan dan kesadaran. Karena itu, sungguh saya berharap, akan lebih banyak orang (lebih banyak laki-laki, lebih banyak perempuan) yang mengetahui dan menyadari isu ini setelah mengalami—demi menemukan moment “Eureka” yang mencelikkan mata terhadap patriarkhi yang mengopresi. Tak terkecuali kamu yang membaca tulisan ini. Saya menanti untuk mendengarmu berteriak, “Eureka!” dan ikut berdiri untuk mewujudkan dunia yang lebih setara untuk semua. Siap teriak “Eureka”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s