Women’s March Jakarta 2017: Pencerahan Ulang

Hari itu hari Sabtu, bertanggal 4 Maret 2017. Cerah dan penuh gairah di perempatan Sarinah. Dengan baju-baju berwarna pink dan ungu, dengan poster-poster dan semangat membara. Ratusan perempuan (juga laki-laki) segala orientasi seksual berdiri, bersama-sama bersuara demi kesetaraan. Tak terkecuali saya. Hari itu, dalam empat jam bersama-sama di long march, orasi, dan pertunjukan seni-budaya rekan-rekan rekan feminist, dari Sarinah sampai depan Istana Negara, saya melalui proses pencerahan sekali lagi. Sebuah pencerahan ulang kembali.

Women’s March Jakarta 2017 bagi saya bukan digelar sekedar aksi ikut-ikutan kelompok perempuan feminist di Amerika Serikat sana (terkait Women’s March di Washington DC pada 21 Januari 2017). Women’s March Jakarta 2017 tidak diselenggarakan hanya karena solidaritas internasional kaum perempuan—lebih dari itu, isu-isu yang diangkat, dibahas, dan dikampanyekan dalam acara ini sangat kontekstual. Sangat Indonesia. Tentu, bersama segala masalah ketimpangan dan ketidaksetaraan gender-nya. Kaum feminist Indonesia tidak bicara mengawang-awang ke masalah yang jauh dari perempuan Indonesia. Sebaliknya, kaum feminist Indonesia bicara tentang sesuatu yang dekat dan nyata di negeri sendiri, yang tengah terjadi, yang dialami dan harus diatasi.

Ada 8 tuntutan Women’s March Jakarta 2017. 1. Menuntut Indonesia kembali ke tolerani dan keberagaman. 2. Menuntut pemerintah mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan gender. 3. Menuntut pemerintah dan masyarakat memenuhi hak kesehatan perempuan dan menghapus kekerasan terhadap perempuan. 4. Menuntut pemerintah dan masyarakat melindungi lingkungan hidup dan pekerja perempuan. 5. Menuntut pemerintah membangun kebijakan publik yang pro-perempuan dan pro-kelompok marjinal lain, termasuk perempuan difabel. 6. Menuntut pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan perempuan di bidang politik. 7. Menuntut pemerintah dan masyarakat menghormati dan menghapus diskriminasi terhadap kelompok LGBT. 8. Menuntut pemerintah dan masyarakat lebih memperhatikan isu global yang berdampak pada perempuan, serta membangun solidaritas dengan perempuan di seluruh dunia.

Dalam Women’s March Jakarta 2017, saya kembali benar-benar menyadari bahwa isu perempuan di Indonesia nyatanya sangat luas. Ketidaksetaraan gender menyapu begitu banyak bidang kehidupan perempuan. Saya bertemu banyak aktivits perempuan yang menyuarakan isunya masing-masing dalam orasi. Isu yang bahkan saya harus akui saya luput untuk memperhatikan selama ini. Isu diskriminasi dan kekerasan yang dialami kelompok perempuan difabel, isu ketidaksetaraan yang dialami para perempuan adat, sampai isu ekofeminisme yang diperjuangkan para perempuan penjaga lingkungan. Masalah buruh migran perempuan. Masalah kesempatan partisipasi kaum perempuan dalam politik. Masalah budaya sexist dan patriarkhis. Masalah kekerasan perempuan. Masalah kematian perempuan ketika minimnya layanan kesehatan ketika melahirkan. Masalah pernikahan anak di bawah umur. Masalah ketidaksetaraan dalam ranah pekerjaan publik bagi perempuan. Sudah jelas, isu perempuan tidak sedikit tetapi yang peduli masih sedikit.

Belum lagi poster-poster yang kreatif dan inspiratif yang dibawa rekan-rekan feminist semakin mendukung pencerahan ulang saya. Melihat dan membaca poster-poster itu membuat saya merasa sepenanggungan, sepikiran, seperasaan. Di tengah kehidupan sehari-hari yang banyak bergaul dengan orang-orang yang sangat patriarkhis dan jauh dari kelompok feminist, berada di tengah-tengah mereka saya merasa menemukan dukungan sosial (padahal, saya tak kenal mereka). Saya lega, ternyata bukan hanya saya, ternyata ada banyak, yang juga menaruh perhatian pada isu perempuan dan ketidaksetaraan gender. Melihat dan membaca tulisan dalam poster-poster itu menyadarkan saya, mencerahkan saya, bahwa isu yang terlihat sesepele apapun terkait ketidaksetaran gender tidak boleh dianggap sepele. Kenapa? Tentu, karena semuanya berakar pada penyebab yang sama : patriarkhi yang mendominasi dan mengopresi.

Dalam kehidupan sehari-hari di sekitaran saya selama ini, saya melihat tidak banyak yang mau berdiri untuk perempuan. Akibat patriarkhi yang diterima tanpa dikritisi sama sekali, para perempuan di sekitar saya juga merasa isu-isu perempuan yang diangkat kaum feminist terlalu mengada-ada dan dibesar-besarkan. Mereka merasa isu-isu perempuan itu sebenarnya bukanlah masalah. Mereka merasa tidak ada yang salah dengan patriarkhi. Namun, dalam Women’s March Jakarta 2017, saya melihat ternyata ada ratusan orang (sekitar 700-an orang lebih, menurut orator) yang ikut berdiri bersama bagi isu perempuan. Dan, itu tidak hanya para perempuan. Bahkan, banyak juga para laki-laki yang mau berdiri bagi perempuan! (Ketika ada para perempuan yang bahkan tidak mau berdiri bagi sesama kaum perempuan yang teropresi, akibat dibutakan tipu-daya patriarkhi). Saya merasa cerah. Cerah melihat masa depan kaum perempuan dan cerah melihat peradaban dunia yang lebih setara.

Hari itu hari Sabtu, 4 Maret 2017. Saya ikut berdiri dengan baju pink dan sebuah poster di tangan tentang pernikahan anak dari Koalisi Perempuan. Hari itu cerah, seperti ikut mendukung pencerahan yang kembali datang kepada saya. Perempuan bersatu, tidak bisa dikalahkan. Perempuan bergerak, tidak bisa dihentikan. Perempuan dan laki-laki bersatu, bersama wujudkan kesetaraan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s