Bosan Ditanya-Disuruh Nikah?

Bosan ditanya-disuruh nikah? Bukan kamu saja, saya juga. Bahkan bukan kita saja, banyak orang juga. Saya baru sadar bahwa isu ini tidak sepele. Saya baru sadar ternyata banyak feminist lain yang tidak suka ditanya-disuruh nikah dan memilih melawan pertanyaan setengah paksaan, kapan nikah itu. Bosan disuruh nikah.

Ini menarik. Usia biasanya menjadi pertanda orang-orang mulai sibuk mempertanyakan pertanyaan yang bikin jengah itu pada kita, “kapan nikah, umur udah segini udah pas dong menikah?” Itu kalau usia baru di awal 20-an. Pertanyaan mereka akan lebih kejam ketika usia kita sudah masuk 20-an akhir sampai seterusnya, 30-an 40-an. “Kapan nikah? Umur lu udah segini kali, udah tua.”

Saya pernah mengalami obrolan sejenis dengan seorang teman laki-laki saya yang mengesalkan sekali. Memang usia saya baru di awal 20-an jadi tuntutan sosial yang saya rasa tidak seberat dengan teman-teman perempuan yang usianya lebih tua dari saya. Sejujurnya, saya tidak suka teman saya ini karena dia suka flirting gombal kemana-mana (termasuk pada saya) sekalipun dia sudah punya pacar. Entah dia bercanda entah serius, kata “kemana-mana” yang saya bubuhkan itu jelas pertanda bahwa itu bukan hal yang wajar dilakukan. Suatu kali dia berkomentar, “yul, lu cepet-cepetlah (menikah). Udah itu nanti yang ngedeketin hajar aja langsung (diterima sampai dinikahi, maksudnya).” Saya langsung menjawab tanpa banyak memikir-merenung nasehatnya itu, “ah, ogah!” Dia melanjutkan, dengan komentar yang jahat, “Lah, mumpung lu masih muda. Jangan sampai telat, nanti udah peot duluan.” Komentarnya diakhiri dengan statement dan body language yang lebih jahat, “kayak itu tuh” (menunjuk salah satu teman kami perempuan yang berusia 40-an dan belum menikah).

Harap dipahami, bahwa kata “peot” yang dimaksud teman laki-laki saya ini lebih berkonteks seksual. Tentu dalam anggapan, bahwa perempuan lebih cepat tua secara seksual, dibandingkan laki-laki yang bisa bertahan lebih lama dalam usia (well, saya tidak tahu apakah ini sexist atau biologis, akan saya teliti lagi). Dan, kenyataan bahwa ia langsung menunjuk salah satu teman perempuan kami yang berusia 40-an itu sungguh sangat tidak sopan. Dalam hati, saya membatin, teman laki-laki saya ini tidak sadar diri. Dia sendiri sudah jalan pertengahan usia 30-an dan juga belum menikah sampai sekarang, tapi dengan mulut pedas dan jahat bisa mengomentari orang lain yang belum menikah.

Over all, saya lebih tidak suka gagasannya, tuntutannya, generalisasinya, bahwa setiap orang harus menikah. Bahkan tidak hanya harus menikah, tapi juga harus buru-buru menikah sebelum tua (dan dianggap tidak lagi produktif dan maksimal dalam hubungan seksual). Karena saya terlanjur jengah, obrolan akhirnya saya lanjutkan dengan pertanyaan balik, apakah semua orang harus menikah—yang kemudian jadi menjurus bawa-bawa agama karena seperti biasa, orang-orang seperti ini dengan tidak bijaknya berkedok ajaran agama (yang sebenarnya juga belum mereka pahami secara menyeluruh). Menuntut orang karena ajaran agama bilang semua orang diamanahkan untuk menikah (yang kemudian saya tantang berpikir dengan ayat spesifik khusus dalam kitab suci yang sama, karena kebetulan agama kami sama). Dia kelabakan, tuh kan apa saya bilang.

Ada banyak sekali alasan kenapa perempuan belum menikah, atau bahkan memang tidak ingin menikah. Jelas, alasan itu bukan sesepele yang orang hakimi dengan “gak laku lu” (perempuan disamakan dengan barang yang tujuan akhirnya hanya buat laku dijual) atau “kriteria lu ketinggian sih” (tanpa mencoba memahami dulu kriteria apa itu dan latar belakangnya). Juga jarang, orang-orang yang ribut itu menanyakan lebih dulu, “lu emang kepingin nikah atau gak?”. Sebuah standar konformitas sudah disama-ratakan : pernikahan adalah wajib untuk semua orang sebagai salah satu norma sosial yang mutlak. Titik.

Ketika pernikahan ditetapkan sebagai kemutlakan yang harus dijalani seorang perempuan, resiko-resiko mulai bermunculan seiring dengan tuntutan sosial yang menghajar perempuan tanpa ampun dari banyak mulut. Salah satunya, ketika perempuan akhirnya berpikiran konformis tanpa mencoba kritis sama sekali, ketika perempuan terseret apa kata orang : gue harus menikah sebelum usia 30, misalnya. Karena itu, segala cara dicoba dan kehidupan diri sendiri dipertaruhkan, demi mendapati laki-laki yang bisa dinikahi. Tentu, tak berbeda halnya dengan para laki-laki (bahkan lebih banyak laki-laki di sekitar saya yang kelihatan lebih galau dalam hal ini dari perempuan). Laki-laki dan perempuan bisa sama-sama takut tidak menikah dan melajang seumur hidup—yang menurut saya, ketakutan ini sebenarnya bukan ketakutan menjalani hidup sendirian tanpa pasangan (mereka sebenarnya adalah orang-orang mandiri), tapi lebih pada ketakutan dihajar oleh tuntutan sosial dan pandangan orang yang mengharuskan setiap orang menikah. Hm, kecuali mungkin mau menjadi rohaniawan agama tertentu. Meskipun, tidak sedikit juga perempuan yang berani menantang konformitas, untuk tidak menikah kecuali benar-benar yakin dengan laki-laki yang akan dinikahi, atau bahkan berani untuk tidak menikah sama sekali. Para perempuan feminist yang sudah memahami banyaknya masalah sosial yang terjadi di dalam pernikahan masuk dalam kelompok ini: mereka yang bosan ditanya kapan nikah dan berani untuk menyuarakan bahwa pernikahan bukan akhir segala-galanya.

Saya menuliskan ini berdasarkan realita yang saya lihat sendiri. Akhirnya, karena terseret tuntutan sosial, banyak perempuan (dan laki-laki, tapi kebanyakan perempuan yang lebih menderita akibat rumah tangga yang masih menganut sistem patriarkhi yang mengopresi perempuan) harus bertahan dalam rumah tangga yang tidak harmonis. Terburu-buru menikah karena tuntutan sosial, bukan karena keyakinan pada pasangan—tentu beresiko. Banyak tantangan, yang jika tidak kuat ditanggung berujung pada perceraian. (Setelah cerai pun ditanya lagi, “kok cerai? Kapan mau menikah lagi?” Capek gak sih).

Dalam tulisan ini, tentu saya tidak bermaksud untuk mengajak perempuan-perempuan untuk tidak menikah. Sebagaimana tidak menikah adalah hak, menikah juga adalah hak perempuan. Mungkin lebih tepat, saya ingin mengajak perempuan-perempuan untuk memikirkan kembali pernikahan. Bahwa, pernikahan itu tidak boleh dilakukan hanya karena takut pada tuntutan sosial semata. Alasannya sederhana, saya hanya tidak ingin melihat lebih banyak teman-teman perempuan saya menderita akibat pilihan yang diambil karena paksaan social pressure. Saya sudah lelah melihat perempuan yang kemudian menyesali pernikahannya. Saya ingin memastikan bahwa setiap perempuan tahu percis resiko pilihan yang diambilnya terkait pernikahan dan siap, jangan menyesal ketika keputusan sudah diambil. Bagi saya, pernikahan itu hal serius dan bukan main-main, kita tidak bisa putus-nyambung kapan saja seperti ketika masih pacaran. Jadi, harus sungguh-sungguh dipikirkan. Kita tidak perlu mengorbankan diri sendiri demi menyenangkan tuntutan orang-orang. Toh setelah kita menikah dan mengalami pengalaman pernikahan yang sulit, mereka bukannya memberi dukungan atau bantuan—sebaliknya, mereka kembali datang dengan cibiran dan tuntutan sosial. Meninggalkan perempuan terjebak dalam pilihan yang pada akhirnya serba salah.

Kalau kita lihat, dalam pernikahan, banyak kasus yang tidak diharapkan, memang terjadi. Karena berakar pada budaya patriarkhi yang meninggikan laki-laki dan menempatkan para perempuan di kelas dua di bawah laki-laki yang dapat diopresi, lahirlah kasus-kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Belum lagi marital rape atau pemerkosaan pasangan sendiri. Atau perselingkuhan suami (bukan berarti istri tidak ada yang berselingkuh, tetapi presentasenya lebih sedikit dibandingkan suami). Lalu, masalah nafkah yang tidak dapat dipenuhi suami, urusan ekonomi rumah tangga yang akhirnya harus ditanggung oleh istri yang bekerja banting-tulang. Sampai, ditinggalkan oleh suami yang tidak bertanggung-jawab terhadap istri dan anaknya (ini kerap kali saya temui pada perempuan yang berasal dari keluarga prasejahtera).

Semuanya ini tentu tidak saya sebutkan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menggugah kesadaran perempuan, bahwa penting mengetahui bahwa pernikahan memang beresiko, jadi memiliki kriteria tertentu terhadap calon pasangan masa depan itu baik. Jangan takut dianggap ketinggian oleh tuntutan sosial. Misalkan, saran saya, carilah laki-laki yang paham gender equality dan bisa menghargai istrinya dalam posisi yang setara. Tidak menganggap perempuan sebagai barang milik, tetapi rekan seperjuangan sehidup semati—sehingga bersama dia hidup kita tidak di bawah opresi. Jangan takut dianggap tidak laku. Ladies, kita bukan barang. Kita manusia, bukan untuk dijual, tetapi untuk dihargai. Jadi jelas, hanya orang-orang yang tidak bisa menghargai orang lain yang melabel perempuan dengan kata-kata tidak laku hanya karena belum menikah atau tidak punya pasangan.

Bosan ditanya-disuruh nikah? Bukan kamu saja, saya juga. Bahkan bukan kita saja, banyak orang juga. Jadi, kamu tidak sendirian. Kita sama-sama bosan ditanya-disuruh nikah. Jadi, santai saja dan hadapi tuntutan orang-orang dengan keyakinan dan keberanian, bahwa pernikahan itu pilihan yang harus hati-hati ditentukan bukan sekedar karena takut cibiran orang-orang. Salam keberanian!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s