Sebuah Kampanye: Jangan Atur Tubuhku

Jangan Atur Tubuhku merupakan salah satu isu kampanye kaum perempuan-feminist di antara berbagai isu perempuan lainnya yang juga sama-sama penting. Kampanye ini juga banyak disuarakan dalam Women’s March Jakarta 2017 di depan Istana Negara pada hari Sabtu, 4 Maret 2017 kemarin. Ada satu poster yang sangat menarik bagi saya dalam march itu, dibuat oleh kawan-kawan feminist yang juga ikut dalam march. Tujuannya untuk mengkampanyekan isu jangan atur tubuhku ini. Hak atas tubuh perempuan.

Poster itu sederhana tapi artistik, menurut saya. Digambar di sebuah papan putih besar yang dipakai depan-belakang dengan dihubung tali. Di bagian depan, bergambar seorang perempuan dengan kaos pendek di bawah dada dan hot pants, dengan tattoo dan rambut dipotong pendek diberi warna ungu mencolok. Perempuan ini digambar dalam proporsi tubuh berisi. Di bagian belakang, ada gambar seorang perempuan dengan penampilan mirip laki-laki—yang sering dilabel orang dengan istilah “tomboy”. Dia memakai kaos oblong dengan lapisan kemeja luar dan jeans belel panjang. Rambutnya panjang pula dan keriting, dalam proporsi tubuh kurus.

Kedua sosok gambar perempuan ini dikeliling tulisan-tulisan singkat. Untuk perempuan pertama yang tampak berisi dan mengenakan hotpants serta kaos yang pendek sehingga menunjukkan bagian perut tertulis komentar-komentar seperti (1) “Make up ngapain sih tebal-tebal bagusan yang natural”, (2) “Rambutnya kok gitu! Emang boleh sama suami?”, (3) “Makin ndut aja kamu!”, (4) “Cewek baik-baik mana ada yang bertato?”, (5) “Perut gendut dipamer-pamerin, nggak tahu malu”, (6) “Wah gede banget! Bahenol gan!”, (7) “Kak cek ig kita, ada pemutih wajah, obat peninggi badan, dan pil susut perut dijamin alami”, (8) “Cewek yang berbulu biasanya nafsunya besar”, (9) “Pakai hotpants mengundang pelecehan seksual”, (10) “kalau kurusan pasti lebih cantik”.

Untuk perempuan kedua yang tampak kurus pun ada komentar-komentar seperti, (1) “Rambutnya dilurusin aja, supaya keliatan rapi”, (2) “Cantik-cantik kok galak, senyum dong”, (3) “Kutilang darat nih, kurus tinggi langsing dada rata”, (4) Travelling dan jalan-jalan terus, gak takut hitam?”, (5) Kurus banget, lagi sakit ya?”, (6)Cewek jalan sendirian, wajarlah kalo digodain. Salah sendiri kenapa cantik”, (7) Ngapain lagi olahraga, kan udah kurus?”, (8)Pakai baju yang lebih feminin dan flattering, deh. Pasti lebih manis”, (9) “Dandan dong, biar lebih cewek.

Di bawah poster tertulis dibuat berdasarkan komentar-komentar nyata seputar tubuh perempuan di media massa dan media sosial (mari juang rebut kembali). Mereka benar. Saya merasa, senasib sepenanggungan. Sepertinya perempuan ditempatkan dalam posisi serba salah ketika tidak memenuhi standar tertentu yang sebenarnya sangat bias : kurus salah, gemuk salah. Dandan salah, gak dandan salah. Seolah-olah tubuh perempuan bisa dikontrol untuk menyenangkan ekspektasi (terutama laki-laki). Kalau dirasa tidak menyenangkan, dihajar dengan komentar dan kritik pedas. Sexist. Itu mengapa perempuan harus berani kembali memperjuangkan hak tubuhnya. Menyuarakan jangan atur tubuhku karena tubuh perempuan adalah milik perempuan, masing-masing.

Seperti kampanye dalam poster itu, Jangan Atur Tubuku sering salah dipahami dalam perspektif terlalu sempit oleh orang banyak : seolah-olah itu hanya mengenai kebebasan untuk berpakaian, yang sering kali disamakan hanya dengan hak untuk berpakaian seksi. Jelas bukan hanya itu. Jangan Atur Tubuhku lebih luas dari itu, menuntut hak atas tubuh perempuan seutuhnya. Termasuk untuk berpakaian apa saja, entah dianggap terbuka atau tertutup, entah dengan hot pants atau dengan jilbab, entah dengan gaya feminin atau gaya maskulin. Termasuk untuk pilihan untuk mengatur tubuh sendiri, dari ujung rambut sampai ujung kaki : entah rambut akan dibiarkan keriting atau justru di-smoothing, entah rambut dipotong panjang atau dipotong pendek, entah perempuan memilih tetap kurus atau tetap gemuk tanpa menjalani diet apapun, entah kuku di-nailart macam-macam atau tidak di-nailart sama sekali – sampai pada pilihan terkait rahim perempuan. Apakah perempuan memilih untuk mengandung atau tidak mengandung, apakah perempuan memilih untuk memakai alat kontrasepsi atau tidak memakai alat kontrasepsi. Bahkan, termasuk pilihan aborsi (untuk yang terakhir ini saya memilih out of discussion dulu :’)

Jelas diatur-atur itu tidak enak, apalagi dengan aturan yang sebenarnya sangat subjektif. Preferensi pribadi – atau mungkin preferensi konformis publik yang sebenarnya harus dikritisi. Apalagi jika yang mengatur itu teman atau kenalan laki-laki, hanya karena kita perempuan dan sadar tidak sadar dianggap sebagai golongan kelas dua.

Saya sendiri beberapa kali mengalami. Saya bukan orang yang suka berpakaian terlalu feminin, meski kadang-kadang bisa berpakaian sangat feminin tergantung mood dan situasi hati—tapi kenalan saya, laki-laki, pernah berkomentar, “yul, pakaian lo yang perempuan gitu kenapa sekali-sekali.” Saya mempertanyakan, yang perempuan gitu maksudnya bagaimana ya? Bukannya lebih tepat jika disebut feminin daripada melabel yang perempuan gitu? Jadi sekarang, saya bukan perempuan karena saya tidak memakai pakaian yang perempuan gitu?

Pernah lagi suatu kali soal rambut saya. Saya memang masih termasuk kurang perhatian untuk masalah estetika rambut. Maklum, rambut saya selama ini dipotong pendek—dan ini kali kedua seumur hidup rambut saya dibiarkan panjang. Kali kedua lho. Tapi saya tidak terlalu ambil pusing. Saya suka rambut saya. Saya juga sering lupa untuk sisiran ketika kerjaan dan deadlines sedang menumpuk—lalu ada yang berkomentar. “Yul, rambut lu diikat kenapa, disisir kenapa. Berantakan.” Atau yang lain, “yul, rambut lu di-smoothing aja biar lurus, biar bagus biar cantik tau.” Wah, sayangnya saya bukan pengikut standar kecantikan yang mengatakan cantik itu selalu disandingkan dengan rambut lurus. Atau pernah saat saya sedang senang pakai hairdryer setiap kali selesai keramas, saya dikomentari lagi-lagi oleh teman yang tidak dekat dengan saya, “banyak pakai hairdryer nanti rambutmu rusak, gak takut rusak?” Tapi, nada suaranya itu lho. Mengintimidasi.

Yang paling sering soal berat badan dan proporsi tubuh—yang awalnya saya anggap biasa kemudian sangkin seringnya jadi menganggu. Saya memang kurus dan penggemar tubuh kurus (tanpa mendiskreditkan tubuh yang tidak kurus tentunya). Alasannya sederhana, karena saya malas makan dan tidak senang makan. Komentar “yul, lu kurus banget sih” berceceran dimana-mana, seperti menuntut saya mengutipnya satu-persatu. Menuntut saya untuk turut, berusaha berubah jadi lebih gemukan. Komentar “yul, lu gemuk dikit lagi kayak kemarin itu segeran lho” – padahal sungguh saya pribadi merasa itu tidak kece buat saya dan saya tidak mau lagi kayak kemarin itu. Preferensi saya berbeda dengan preferensi teman-teman saya ini. Namun, mereka tak sadar dan komentar itu diulang lagi beberapa kali.

Tentu, komentar seperti ini bisa jadi tanda perhatian sebagai seorang sahabat dan keluarga. Tapi, komentar tanda perhatian juga ada batasnya dan ada konteksnya. Saya memang tidak akan sensitif kalau yang mengatakan itu sahabat-sahabat saya, yang sudah terbukti mengatakan itu tanpa ada maksud lain selain peduli pada saya dan mementingkan kepentingan saya—jadi itu preferensi seorang sahabat dan itu saya anggap baik. Hanya saja jika sebenarnya hubungannya tidak begitu dekat dan dikomentari ini-itu kok rasanya bossy sekali ya. Kalau sekali-sekali, saya masih maklum, masih wajar. Manusia memang senang menilai dan berpendapat. Namun kalau terus-terusan, direpetisi, diulang-ulang? Kan sudah menuntut dan bukan berpendapat lagi namanya. Ini tubuh saya atau tubuh siapa sih sebenarnya?

Komentar juga ada batasnya. Selama itu hanya disampaikan sebagai saran preferensi pribadi demi kebaikan yang dikomentari sih gak apa-apa. Tapi kalau sebenarnya hanya karena alasan tidak enak di mata yang mengomentari dan tidak sesuai dengan konformitas publik yang diketahui? Atau karena yang mengomentari tidak bisa melakukan seperti yang dikomentari karena batasan-batasan yang dianut tapi juga disesali? Kalau sudah jadi menuntut dan memaksa, bahkan sampai berulang kali, padahal preferensinya sudah berbeda dengan yang dikomentari, jelas sudah melanggar batasannya kan ya?

Perempuan bukan manekin. Bukan manekin yang bajunya bisa bebas kita pilihkan dan pakaikan. Bukan manekin yang tubuhnya bisa kita atur dan kita request proporsinya tidak kurus atau tidak gemuk. Bukan manekin yang rambutnya bisa kita tata sesuai trend zaman yang hendak dijual. Bukan manekin yang tidak punya kehidupan dan tidak punya hak atas tubuhnya. Perempuan itu manusia, bukan mainan bukan boneka. Bukan manekin.

Belajar menghargai preferensi orang lain dengan tidak menuntut atau memaksakan preferensi pribadi, menurut saya merupakan salah satu dasar yang penting dalam isu ini. Belajar menghargai perempuan, dalam posisi setara, bukan sebagai kelompok gender kelas dua. Belajar menghargai keberagaman dan belajar merayakannya—daripada menyeragamkan semua jadi sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s