Mainan & Konstruksi Sosial Bias Gender Anak

Percaya atau tidak, saya pikir ada hubungannya antara mainan yang dimainkan sedari kecil dengan perilaku seorang anak laki-laki ketika menjadi ayah dan suami di dalam keluarga prokreasinya kemudian. Memang, saya belum meneliti ini dan juga belum menemukan penelitian kuantitatif maupun kualitatif yang secara ilmiah sudah dapat membuktikan dugaan ini. Tapi, saya yakin, sedikit-banyak pasti ada pengaruh.

Cerita perenungan ini berawal ketika saya mulai sibuk mencari kado untuk anak asuh saya di Wahana Visi Indonesia. Saya berpikir tentang mengirimkan mainan mendidik, lalu saya masuk ke sebuah toys store di sebuah mall di Depok. Di deretan rak penuh mainan ini-itu, saya menemukan seperangkat mainan role play masak-masakan, lalu seperangkat mainan role play cuci-cucian. Ya, dengan mesin cuci, ember, baju, hanger, sampai jemuran. Di saat itulah, saya mulai berpikir beyond common sense. Sepertinya ada sesuatu yang perlu dikritisi disini.

Saya ingat masa kecil saya, tidak jauh beda. Mainan apa yang saya kenal sebagai mainan yang akrab untuk anak perempuan ketika saya masih belia? Boneka, mainan role play masak-masakan, mainan role play rumah-rumahan—meskipun saya tidak pernah memiliki mainan role play cuci-cucian, kenyataan bahwa mainan ini ada dan ditujukan spesifik untuk anak-anak perempuan menganggu saya. Tentu dengan kemasan yang desainnya dianggap orang perempuan sekali, kadangkala dengan gambar anak perempuan. Saya sadar dalam hal ini bahwa mainan tidak hanya sekedar mainan untuk have fun. Mainan telah dijadikan sebuah alat konstruksi sosial untuk peran gender, yang dalam hal ini sangat bias di mata saya.

Sebelumnya, lihat mainan untuk anak-anak laki-laki. Robot, mobil, pistol. Melibatkan banyak aksi dan kekerasan—yang tentu patut dikritisi juga soal dampaknya di masa depan anak—tetapi lebih kaya jenis. Anak laki-laki disodorkan ranah publik, ketika anak perempuan disodorkan segala macam ranah domestik : masak, cuci, rumah, anak. Social construction about social roles.

Saya memang memakai mindset feminism dalam hal ini. Tetapi lebih dari itu, kenyataannya memang mainan bias gender telah mengkotak-kotakkan dan membatasi ruang anak untuk berpikir dan bermimpi sejak masih kecil. Apakah selalu, di zaman sekarang, perempuan sibuk dengan ranah domestik tanpa bisa masuk ke ranah publik? Padahal, banyak sekali, perempuan-perempuan yang menjadi working mom di kota besar. Kadang bukan karena mereka tidak mau jadi ibu rumah tangga, tetapi karena mereka tidak bisa. Tidak bisa karena tuntutan finansial keluarga yang tak bisa hanya mengandalkan penghasilan suami semata. Apakah anak perempuan tidak boleh bermimpi jadi dokter? Jadi pilot? Jadi polisi? Jadi pembalap mobil? Sebaliknya, apakah laki-laki haram untuk mengenal dan menguasai pun ranah domestik juga? Bagaimana jika suatu ketika istrinya kepayahan karena melahirkan dan tak ada pembantu rumah tangga, tak bolehkah dan tak bisakah laki-laki membantu urusan domestik keluarganya?

Jika kita melihat dalam ranah yang lebih luas, memang banyak jenis mainan yang juga sudah menawarkan sosialisasi kesempatan yang lebih luas kepada anak perempuan. Misalkan, boneka Barbie. Mengesampingkan konstruksi sosialnya tentang tubuh ideal perempuan (dan laki-laki), boneka Barbie menurut saya lebih berani mengajak anak-anak perempuan bermimpi. Barbie tampil dalam berbagai profesi. Dari perempuan stylish sekelas model atau tokoh fairytale sampai dokter dan polisi. Ada juga penari ballet. Bahkan, spy member. Sayangnya, tak semua anak memiliki kemampuan untuk membeli boneka seharga ratusan ribu Rupiah ini di Indonesia.

Kembali kepada gender-biased toys, dalam penjelajahan kecil-kecilan saya untuk mendalami isu ini, saya menemukan sebuah website yang menarik. Sebuah gerakan to let toys be toys, di UK. Ternyata, isu ini lebih jauh bersinggungan dengan agenda dan strategi marketing dari toys company, juga toys store. Saya luput untuk memperhatikan, seperti kata mereka, bahkan di toko-toko mainan baik toko fisik maupun online, pengkotak-kotakan mainan ini memang bias gender. Dibandingkan mengelompokkan mainan berdasarkan fungsi atau jenis kegunaan, mainan dikelompokkan dengan dua kategori yang tampak saklek kurang dapat diseberangi: untuk anak laki-laki dan untuk anak perempuan. Dengan warna biru bagi anak laki-laki dan warna merah jambu untuk anak perempuan.

Pengelompokkan seperti ini tentu semakin memelihara pemikiran bahwa ada mainan-mainan tertentu yang hanya boleh dimainkan oleh laki-laki, atau oleh perempuan. Jika anak laki-laki memainkan mainan untuk anak perempuan, maka dia akan disindir atau diejek. Jika anak perempuan memainkan mainan untuk anak laki-laki, maka dia akan dilabel dengan istilah “tomboy”. Padahal apa salahnya anak laki-laki bermain boneka bayi atau apa salahnya anak perempuan bermain mobil-mobilan? Apa anak laki-laki tidak boleh menjadi ayah atau anak perempuan tidak boleh menyetir mobil di masa depan?

Dalam website let toys be toys, saya merasa sangat tersentuh melihat anak-anak laki-laki yang difoto orang tuanya bermain boneka bayi dalam role play sebagai ayah yang baik. Ada yang sedang memberi makan, ada yang sedang menggendong, ada yang sedang mendorong kereta bayi dengan boneka seumpama anak di dalamnya. Dalam usia yang masih sangat belia. Lalu saya pun menyadari, ya kenapa anak laki-laki dihalangi untuk bermain boneka dan terlibat dalam role play sebagai seorang caring dad? Sebagai gantinya, mereka disodorkan segala bentuk permainan yang melibatkan kekerasan, perkelahian, kekuatan. Coba kita pikir, jangan-jangan ada hubungannya segala bentuk kasus kekerasan yang terjadi kepada anak dan perempuan oleh ayah dan suami mereka dengan hal ini? Alih-alih diajarkan dan disosialisasi untuk menjadi ayah yang berperan baik dan menyayangi anaknya, anak laki-laki dididik menjadi anak yang akrab dengan kekerasan dan perkelahian. Yang mungkin bisa jadi dipraktikkan pula, secara sadar dan tidak sadar, kepada anak dan istri ketika konflik terjadi di kemudian hari.

Biarkan mainan menjadi mainan, yang sifatnya mengedukasi dan melatih kemampuan anak—bukan mendikte anak untuk itu dan ini di masa depan nanti. Biarkan anak memilih mainan apa yang dia suka, dia ingini, tanpa harus dibatasi “ini untuk perempuan” dan “ini untuk laki-laki”. Biarkan anak bereksperimen sendiri dengan apa yang dia sukai, sambil kita dampingi. Biarkan anak belajar untuk menjadi perempuan dan laki-laki yang tidak bias gender. Karena, secara psikologis, ada pengaruh signifikan antara jenis mainan yang cenderung dimainkan anak dengan perkembangan kemampuan soft skillsnya. Pembedaan-pembedaan yang hanya fokus pada gender yang membatasi jenis mainan yang dimainkan anak akan berdampak kepada kurangnya softskills anak dalam sisi-sisi tertentu. Tentu, inipun harus menjadi pertimbangan untuk tidak mengelompokkan mainan dengan label gender—tetapi lebih ke kategori fungsi. Yes, let toys be toys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s